Ice Princess, her stepsister, and namja part IV

barbie girl

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cast   : Jessica Jung, Lee Donghae, Choi Sulli, Ok Taecyeon.

“Sooyeon Noona, Gwaenchanayo ?”

Kedua mata Sooyeon berusaha terbuka agar ia bisa melihat pemilik suara itu. Taecyeon sedang menatapnya penuh kekhawatiran, Sooyeon mendesah. Di dalam hatinya ia ingin sekali orang yang ada di depannya ini adalah Lee Donghae bukan Taecyeon. Sooyeon hanya mengangguk tak peduli, ia mengalihkan pandangannya kepada sebuah jendela tepat di samping kamar tidurnya. Ia menangkap sosok Donghae dan Jinri yang sedang berjalan melewati jendela kamar itu. Mereka bergandengan tangan, erat sekali. Tiba tiba Jinri memandang Sooyeon dari balik jendela dan tersenyum licik. Senyuman itu seolah menandakan ‘Donghae resmi milikku’.

Sooyeon POV

Tch. Aku berdecak pelan, pasti anak kecil itu sengaja lewat di depan jendela kamarku. Dasar menyebalkan. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan melihat Taecyeon sedang meramu obat untukku. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan ke meja belajarku. Pelajaran bahasa inggris yang menurutku sangat mudah, karena aku sudah tinggal di Amerika sebelumnya. Aku membaca setiap soal dengan teliti, soal yang kedua aku melihat sebuah surat dengan bahasa inggris. Aku merasa aku mengingat sesuatu yang berhubungan dengan surat. Mataku membulat, surat ? Surat yang dikatakan Donghae kemarin, kira kira surat apa ? Surat cinta ? Sooyeon-ya apa yang ada dipikiranmu ? Surat cinta ? Mana mungkin hal seperti itu terjadi, memikirkannya saja membuat pipiku memerah.

“Noona sebaiknya kau minum vitamin ini. Agar kau tidak kecapaian untuk belajar.”

Taecyeon sudah berada di sebelahku memberikan ramuannya tadi. Aku segera meminumnya daripada aku pingsan lagi seperti kemarin, jadi apa nanti nilai ujianku ?
Tok tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu, sesosok makhluk tampan muncul di hadapanku. Sialan, mengapa aku jadi meracau seperti ini ? Sejak kapan aku memuji Donghae tampan. Semoga wajahku tidak memerah, ini memalukan. Donghae tersenyum melihatku, DEG DEG DEG jantungku bergetar lebih cepat. Perasaan apa ini ? Aku merasa hanya dengan senyumannya saja membuatku teraliri aliran listrik, dan rasa ini membuatku bahagia. Dan membuatku seperti bukan aku yang biasanya.

“Sooyeon-ah, maafkan aku. Kemarin aku harus membuatmu istirahat, agar kau tidak mudah sakit.”

Ia menggaruk rambutnya dengan canggung. Aku tersenyum dalam hati, ia sangat memperhatikanku. Bukankah seharusnya ia lebih memperhatikan kekasihnya Choi Jinri ?
Aku memasang ekspresi dingin seperti biasa.

“Kau seharusnya bersama Jinri, aku tidak suka anak kecil itu meracau hanya karena kau datang kesini.”

Aku mendesah pelan, mengingat Donghae adalah kekasih Jinri. Donghae terlihat santai, ia seperti tidak peduli dengan Jinri. Benarkah itu ? Tapi mengapa ia selalu mesra bersama Jinri ? Apa makhluk ini playboy ?

“Kau baik baik saja kan ? Istirahatlah yang cukup.”

Donghae membalik badannya dan melangkah mejauhi kamarku, aku mendesah pelan. Mengapa aku berharap lebih ? Mengapa aku berpikir ia akan membantah kata kataku ? Dasar Jessica babo.

“Kau menyukainya, Noona ?”

Sialan, apa yang dikatakannnya ? Bagaimana ia bisa mengamatiku dari sudut itu ? Aku membalik badanku dan sekarang aku berhadapan dengannya. Aku menatapnya dingin.

Taecyeon POV

Tch. Noona, jangan berbohong kepada perasaanmu sendiri. Aku sedari tadi melihatmu berusaha menembunyikan wajah cantikmu dari tatapan Donghae. Wajahmu memerah setiap Donghae tersenyum padamu. Tch. Sejak kapan kau mencair Noona ? Mengapa bukan aku saja yang mencairkan esmu ? Aku selalu ada disisimu, bukan ?

Sooyeon Noona meninggalkanku terdiam di kamar yang berusaha untuk merasa tidak patah hati. Aku tidak akan menyerah. Aku berjalan keluar kamar, suara tamparan menggema di penghujung ruangan.

“Nappeun saram ! Dia itu KEKASIHKU Jung Sooyeon !”

Aku menghampiri suara Jinri yang cukup ku kenal itu. Dan benar saja Jinri benar benar tidak terima Donghae mendekati Sooyeon Noona, mengapa melampiaskannya kepada Sooyeon Noona ? Bukankah Donghae yang mendekati Sooyeon Noona duluan ? Aku segera memisahkan kedua gadis cantik itu, Sooyeon Noona hanya diam saja.

“Mengapa kau disini ? Pergilah aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita murahan ini.”

Jinri berteriak di depan wajahku. Sialan, kau memang mencintai Donghae tapi bukan begini caranya. Aku tidak akan mencintai seseorang dengan cara yang sama dengan Jinri, meskipun aku tahu ia sama sekali tidak menyukaiku. Aku menggandeng tangan Noona dengan erat, dan menariknya pergi dari hadapan Jinri.

Kau seharusnya tidak sepasrah itu Noona, aku tahu kau sangat kuat. Ia menatapku tajam, tidak ada kata terima kasih seperti biasa. Kebiasaan yang sepertinya tidak dapat kau ubah Noona. Tapi aku tetap senang bisa ada disisimu seperti ini.

“Kau harus membela dirimu Noona.”

Ia hanya menatapku dingin, sambil berdecak. Ia tidak peduli bila ia ditampar adiknya ? Ia tidak peduli dengan rasa sakit di pipinya ? Kau benar benar membingungkan. Babo. Tapi aku mencintaimu. Aku benar benar mencintaimu.

“Kau bodoh ? Sebelum kau datang mengacaukan semuanya, aku ingin menamparnya balik. Mengapa kau merelai ? ”

Aku membelalak, seharusnya aku tahu pasti tidak mungkin ia tidak membalas tamparan Jinri. Haha. Aku benar benar menyukainya ketika ia berbicara panjang seperti itu.

Mwo ? Tidak mungkin Sooyeon melakukan itu kepada Jinri. Itu aneh. Bila Jinri tidak memulainya duluan mana mungkin Sooyeon akan menamparnya sampai berdarah seperti itu ? Tadi Jinri datang kepadaku dengan sudut bibirnya yang berdarah dan menceritakan kalau Sooyeon datang kepadanya dan memarahinya, bahkan menampar Jinri. Err.. Apa aku percaya pada Jinri begitu saja ? Aku harus tahu dari Sooyeon sendiri. Aku berjalan keluar dari ruangan dan mengajak Jinri untuk menemui Sooyeon.

Gadis itu sedang duduk memandang langit. Sendirian. Aku berjalan menghampirinya. Ia menatapku lalu melihat ke arah Jinri. Ia mengalihkan pandangannya dari aku dan Jinri.

“Kau menampar Jinri ?”

Sooyeon membelalak, tapi ia hanya diam. Tidak peduli. Apa kau ingin kehilangan kepercayaanku ? Apa ia benar benar menampar Jinri ? Memang, aku harus percaya kepada Jinri yang lebih lama aku kenal. Tapi ini aneh. Mana mungkin Sooyeon repot repot menampar Jinri ?

“Aku belum menamparnya.”

tiba tiba Sooyeon memandang mematikan kepada Jinri. Sooyeon kembali diam dan menatap lurus. Tiba tiba Taecyeon datang dan membawa buku pelajaran, ia tersenyum dan memberikannya kepada Sooyeon. Sooyeon menekuri buku pelajarannya tanpa memedulikan lagi aku dan Jinri.

“Donghae hyung, ada apa ini ? Dan mengapa Jinri berdarah seperti itu ?”

“Sooyeon menamparnya.”

Mata Taecyeon terbelalak, ia terkejut ? Taecyeon tampak aneh, apa benar Sooyeon menampar Jinri ? Mengapa ekspresi Taecyeon menunjukkan penolakan yang sangat jelas.

“Hyung. Justru Jinri yang menampar Sooyeon Noona.”

Hah ? Jinjjayo ? Apa Jinri berbohong padaku ? Aku memandang Sooyeon bertanya tanya mengapa ia begitu tidak peduli dengan masalah ini. Mungkin menurutnya ini bukan sebuah masalah ?

“Aniyo. Aku di tampar Sooyeon unnie. Oppa, kau percaya padaku kan ?”

Aku menatap kekasihku yang ingin segera ku putuskan saja. Apa aku harus percaya padanya ? Atau gadis dingin itu ? Tiba tiba Sooyeon menutup bukunya dengan keras. Ia menghampiriku dengan tatapan dinginnya, ia begitu dekat. Aigo. Aku mundur sedikit, tapi dengan cepat ia maju lagi lalu menatap mataku dalam. Matanya dalam dan dingin.

“Aku tidak peduli. Terserah kau percaya pada siapa aja. Bukan urusanku.”

“Dan kau Choi Jinri, rantai saja kekasihmu itu agar tidak datang kepadaku.”

Jessica pergi begitu saja setelah mengucapkan beberapa kalimat yang sangat dingin. Dia tidak peduli ? Aku berpikir untuk percaya padanya. Aku tersenyum sendiri. Babo. Aku tahu kau juga menyukaiku kan Sica-ya ? Jangan terlalu dingin. Tapi bukankah aku mempermainkan Jinri ? Entahlah. Kadang cinta harus egois bukan ? Bila cinta tidak egois akan rumit.

“Jinri-ya. Aku tahu kau mencintaiku bukan seperti oppa-mu. Dan maaf aku tidak bisa mencintaimu selain sebagai adikku.”

Aku menatap mata Jinri dalam, matanya berair. Daripada aku terlalu lama membuatnya jatuh ke dalam sandiwaraku untuk membuat Sica cemburu. Ia tersedu sedu, air matanya menetes berkali kali. Di pipi putihnya berkali kali mengalir air matanya, ia menunduk.

“Waeyo oppa ? Sooyeon hanya makhluk dingin dan tidak berarti apa apa.”

Aku menatapnya dalam, dasar anak kecil. Ia memang belum begitu dewasa untuk mencintai seseorang seperti itu. Aku tahu ia berbohong hanya untuk mendapatkan perhatianku, tch.

“Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya.”

Author POV

Sooyeon pulang dari sekolahnya dengan perasaan gembira, karena hari ini pengumuman hasil ujian telah dibagi dan ia mendapatkan skor tertinggi se-sekolahnya. Sooyeon putus sekolah lulus dari SMP beberapa tahun sehingga ia menjadi agak tua diantara siswa SMA lainnya. Senang tidak senang wajah Sooyeon selalu datar dan dingin.

“YA ~ Mengapa kau terlihat agak baik daripada biasanya ?”

Suara Donghae memanggil Sooyeon membuyarkan kesenangan Sooyeon. Sooyeon membalikkan badannya dan menghadap Donghae yang sedang tersenyum padanya. Sooyeon menunduk, meskipun ia suka melihat Donghae tersenyum padanya. Tapi bila ia mengangkat wajahnya, ketahuan sekali wajahnya memerah hanya karena senyuman Donghae. Donghae menarik kertas dari tangan Sooyeon yang ia genggam erat. Donghae tersenyum membaca isinya, sebuah penghargaan kepada Jung Sooyeon karena mendapat peringkat satu sesekolahnya.

“YA~ Baguslah, pingsanmu waktu itu terbayar dengan ini.”

Donghae mengacak acak rambut Sooyeon, Sooyeon mengangkat wajahnya karena terkejut. Wajahnya memerah. Seseorang memandang mereka dari kejauhan, tersenyum pahit. Sooyeon hanya diam, ia senang dengan perlakuan Donghae kepadanya.

“Kau mau ku traktir di tempat makan favoritmu ?”

Sooyeon mengangguk malu, ia terlalu malu untuk menunjukkan sisi lain selain dingin.

********************************

“Aku penasaran dengan surat itu, apa kau menerimanya ?”

Donghae memandang Sooyeon lekat, Sooyeon yang sibuk dengan makanannya. Sooyeon menatap Donghae datar. Sooyeon menggeleng, lalu ia kembali melanjutkan acara makannya. Donghae memandang arah lain, ia penasaran apakah Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepada Sooyeon ?

“Aku menitipkannya pada Jinri.”

Sooyeon menatap Donghae heran, Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepadanya. Sooyeon hanya diam. Jinri memang tidak pernah dewasa, batin Sooyeon. Dua orang itu sibuk dengan pikiran masing masing, sampai mereka tidak sadar seseorang terus mengikuti mereka dari awal Jessica bersama Donghae. Jessica perlahan tersadar seseorang sedang memandangnya dari tempat yang jauh. Matanya mencari cari seseorang yang sedang mengawasinya, ia melihat ke jendela restauran. Tidak ada yang tampak mencurigakan baginya. Seseorang berbaju hitam bersembunyi di balik tembok yang cukup besar, ia tahu Jessica menyadari keberadaanya. Ia hanya diam bersembunyi, tidak mau keluar dari persembunyiannya.

“Waeyo ?”

Donghae bertanya karena Sooyeon sedari tadi menoleh ke arah yang berbeda berkali kali. Ia menyadari keanehan yang ditimbulkannya. Sooyeon hanya menggeleng ragu. Ia melanjutkan makannya yang sudah tinggal beberapa suap lagi.

Drrt Drrt Drrt

“Yoboseyo ?”
…….
“Mwo ? HAJIMAYO !”
…….
“Tunggu aku, aku akan kesana.”

Giliran Sooyeon yang memandang aneh Donghae, Donghae berteriak teriak tak jelas. Donghae segera keluar dari restauran tanpa mengatakan apa apa, wajahnya tampak penuh kekhawatiran. Sooyeon hanya diam, dan tersenyum pahit.

Sooyeon POV

Perlahan air mata membasahi pipiku, aku menutupi wajahku dengan tangan. Padahal aku sudah mulai mempercayaimu Donghae. Apa kau tidak mencintaiku ? Setidaknya katakan apa yang terjadi. Bukan seperti ini caranya hanya meninggalkanku begitu saja. Ini sudah cukup menyakitkan. Seolah kau baru saja membuatku terbang jauh dan membuatku jatuh bergitu saja ke tanah.

Aku berdiri dan pergi meninggalkan restauran ini daripada aku hanya duduk dan menangis. Aku memandang sekitarku, lagi lagi aku merasa ada yang mengawasiku. Tiba tiba seseorang berbaju hitam berjalan di sebelahku, aku mempercepat langkah tapi tetap saja ia sejajar denganku. Sialan, siapa orang ini.

“Stop following me.”

Aku berteriak dan segera berlari menjauhi orang bodoh itu. Aku sedang tidak ingin bertemu siapa siapa. Tiba tiba sesuatu terlintas dalam pikiranku. Apakah tadi Jinri yang menelepon ? Mengapa Donghae begitu panik ? Padahal Jinri adalah orang ia putuskan beberapa hari lalu. Itu berarti ia tidak menyukai Jinri, kan ?

“Uljimayo.”

Aku berjalan di atas garis hitam putih untuk menyeberang ke sisi lain, tiba tiba aku melihat seseorang dengan baju hitam tadi melepaskan penyamarannya. Tch. Taecyeon menatapku khawatir, apa selama ini ia selalu mengikutiku ? Ia bodoh sekali. Aku sudah menghapus air mataku. Aku berjalan menjauhinya.

“Jangan pernah memandangku sebagai seorang dongsaeng atau anak kecil. Karena aku mencintaimu.”

MWO ?! WHAT THE HELL ?! Otaknya sedang berjalan tidak baik. Aku berbalik dan memelototinya, dasar manusia bodoh. Tapi matanya menunjukkan keseriusan yang mendalam. Aku hanya diam menatapnya, bagaimana bisa ia mencintaiku ? Aku segera menarik tangannya agar pergi dari tengah jalan. Ini tengah jalan, dan ia dengan asyiknya menyatakan cintanya padaku. Aku menarik tangannya tapi tiba tiba ia memegang tanganku erat. Aku melepaskan tangannya dengan paksa ketika selesai menyebrang. Tapi ia tidak mau melepaskan tangannya.

“Mwoya ! Lepaskan aku. Apa kau mau aku berteriak ?”

Aku berteriak sehingga membuat orang orang lain menoleh dan memandang kami curiga. Tapi ia tetap bersikukuh tidak melepaskan tangannya.

“Biarkan seperti ini, Noona. Aku merasa sesuatu akan terjadi padaku.”

Aku menatapnya heran. Err… Sesuatu akan terjadi ? Tapi itu bukan urusanku kan ? Untuk apa aku menurutinya. Aku tetap berusaha melepaskan tangannya, sayangnya tangannya sangat kekar. Sial. Aku menyerah. Ia menggandengku sampai tiba di halte. Aku duduk menunggu bus, ia telah melepaskan gandengan tangannya yang membuatku cukup lega. Ia diam saja sambil melihat jalanan di depannya.

DJ put it back on

Suara ringtone pesan membuatku terkejut, aku melihat ponselku. Satu pesan masuk dari Donghae ? Beraninya ia. Hanya meninggalkanku lalu mengirim pesan dengan santainya ? Aku benci sekali padanya. Tapi apa salahnya membuka pesan darinya.

Sooyeon-ah. Mianhae aku meninggalkanmu.
Jinri akan bunuh diri. Jadi aku harus kesana.
Tapi untunglah aku berhasil membujuknya, apa kau mau aku jemput sekarang ? Atau kau ingin pulang sendiri. Sebenarnya aku masih bersama Jinri. Kau lebih dewasa, jadi kau pasti mengerti. Pulanglah sendiri.

Mwo ? Pulanglah sendiri. Air mata menetes lagi di pipiku, aku kesal padamu Lee Donghae. Mengajakku pergi dengan senyumanmu yang maut itu, lalu meninggalkanku tanpa apa apa. Dasar bodoh. Aku tidak akan percaya padamu lagi. Air mataku semakin deras. Apa aku cemburu ? Tentu saja aku cemburu lebih dari cemburu. Seenaknya saja datang dan pergi. Siapa menyuruhmu kembali lagi Donghae ? Dengan kesal aku melempar ponselku ke jalanan. Tiba tiba Taecyeon berjalan pelan mengambil ponselku itu di tengah jalan, aku hanya menatapnya datar.

Tiiin Tiiiin

BRUUUK, tubuh kekar Taecyeon terhempas di jalanan dengan keras. Mobil menabraknya. Mataku tak bisa berhenti hanya menatapnya. Segera saja aku berlari ke arah Taecyeon yang sudah tidak berdaya.

To Be Continued

Woaah it’s been a long timee. This story will end sooon :”) sorry it’s too late:3 check fanfiction page for the previoous part~

Advertisements

Posted on November 30, 2012, in fanfiction and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: