Category Archives: Uncategorized

Ice Princess, her stepsister, and namja part V [END]

barbie girl

 

 

Cast : Jessica Jung, Lee Donghae

 

Author POV

 

Mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Taecyeon yang sedang memungut ponsel Sooyeon. Sooyeon berlari ke arah Taecyeon, ia memandang Taecyeon penuh kekhawatiran. Ia merasa sangat bersalah.

“Sudah ku katakan padamu Noona.”

Suaranya serak dan agak tidak jelas. Sooyeon meneteskan air matanya, ia menangis. Taecyeon tersenyum kepada Sooyeon, perlahan tangannya ia angkat dan ia mengelus kepala Sooyeon penuh cinta. Sooyeon tersedu sedu.

*********************

Mata Sooyeon terpejam dan berdoa agar dongsaeng yang ia sayang bisa sembuh. Di depan ruang UGD itulah dimana Sooyeon sekarang. Ia sedang tidak bisa berpikir jernih. Ia hanya berdoa dan berdoa. Seseorang keluar dari ruangan UGD.

“Nona, ia ingin bicara denganmu.”

Sooyeon bertanya tanya. Apakah mereka tidak melakukan operasi kepada Taecyeon sehingga Taecyeon bisa mengatakan ia ingin berbicara dengan Sooyeon ? Di kepala Sooyeon berisi berbagai pertanyaan. Perlahan Sooyeon memasuki ruang berbau khas rumah sakit itu, ia melihat Taecyeon yang sudah tidak berdarah lagi seperti tadi karena telah dibersihkan.

“Noona, aku mencintaimu.”

“Bila Donghae hyung menyakitimu aku akan selalu menghiburmu tapi bukan di dekatmu.”

tapi dihatimu.”

Taecyeon menunjuk letak hati Sooyeon. Sooyeon menatap Taecyeon bingung. Taecyeon tersenyum, mata Taecyeon menunjukkan ia sudah tidak kuat lagi berada di dunia.

“Aku akan menjagamu. Aku mencintaimu.”

“Aniyo. Ini salahku, aku yang akan menjagamu. Jadi tetaplah bersamaku.”

Tapi Taecyeon hanya tersenyum dan matanya perlahan menutup. Sooyeon memegang tangan Taecyeon erat.

“Ireona. Ireona Taecyeon. Jangan berbohong padaku.”

*******

Sooyeon keluar dari ruangan itu dengan perasaan hampa, ia merasa sangat bersalah atas kepergian Taecyeon yang tiba tiba itu. Ia duduk di lantai rumah sakit yang dingin, ia bersandar pada dinding rumah sakit. Ia telah berhasil melenyapkan satu orang yang mencintainya di dunia ini gara gara dirinya. Sooyeon memukul kepalanya sendiri.

Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan pulang ke rumah. Berjalan. Tidak naik taxi atau kendaraan umum lainnya.

“Soo..yeon..”

“Mengapa aku tidak melihat taxi ? Kau seharusnya pulang naik taxi.”

Donghae dengan wajahnya yang khawatir memandang Sooyeon yang baru saja masuk ke dalam rumah. Yeoja berwajah kesal dan semuanya tercampuk aduk ke dalam wajah-nya yang dingin, bekas air mata masih terlihat jelas di kedua pipinya. Ia memandang namja itu dengan tatapan mematikan.

“Kau menangis ?”

Hati Sooyeon terasa jatuh begitu saja, namja itu hanya bisa bertanya seperti itu setelah meninggalkannya. Ia merasa sakit hati dengan tingkah Donghae. Ia berbalik menatap namja yang menatapnya tanpa dosa itu, air matanya mengalir begitu saja ketika menatap kedua mata namja tampan itu. Otomatis namja itu mendekat dan mengeluarkan sapu tangannya untuk orang yang dicintainya itu. Tapi sang pemilik air mata menepis tangan namja itu.

“Kau tahu Lee Donghae ? Taecyeon meninggal.”

Donghae membelalak seketika mendengar kata kata yeoja yang berlari masuk ke dalam kamarnya itu. Ia menatap Jinri yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Sebelum ia menghampiri Jinri, ia memutuskan untuk mengatakan berita duka itu kepada Tuan Choi.

Sooyeon POV

Aku membuka flip ponselku yang tadi sempat terbuang dan membaca pesan yang sering tidak ku-baca gara gara terlalu banyak dan isinya tidak penting dari Taecyeon. Tapi kali ini aku ingin membacanya apakah ia mengatakan sesuatu sebelum pergi untuk selamanya ? Aku merasa aku bukan noona yang baik untuknya.

Taecyeon

 

Noona..

Berhati hatilah dengan Donghae hyung

Tch. Penyesalan memang datang di akhir. Kesabarannya menghadapiku memang hebat. Ia tetap disisiku meskipun betapa marahnya aku padanya. Sedangkan Lee Donghae, ia hanya bisa disisiku disaat aku senang saja. Ia lebih sering bersama Jinri itu.

“Sooyeon. Bisakah kau keluar aku ingin bicara.”

Donghae lagi. Dia memang menghantui hidupku. Memangnya apa yang akan ia bicarakan lagi denganku ? Memangnya aku masih penting di dalam hidupnya itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan meletakkan buku bahasa inggris yang tadi sempat-ku baca sebentar tapi pikiranku malah terganggu dengan hari ini yang cukup menyebalkan. Aku membuka pintu kamarku dan memandang namja yang sedang menunduk itu dengan tatapan tajam.

“Sooyeon, kau pulang dengan apa ?”

Aku menatap mata hitamnya itu dengan tatapan memangnya-kau-masih-peduli. Namja ini memang tidak bisa dipercaya. Sudah kedua kalinya. Ia pergi begitu saja dengan santainya. Dan yang pasti sebentar lagi ia akan meminta maaf padaku karena ia telah meninggalkanku sendirian.

“Aku minta maaf karena hari ini benar benar menyebalkan, dan aku tahu kau pulang dengan berjalan kaki.”

Aku memegang pintu coklat itu dan menghempaskan begitu saja pintu tradisional korea itu. Meninggalkan namja itu didepan pintu begitu saja. Daripada aku terus mendengarnya berbicara tentang hal tidak penting.

__________________________________________

“Aku mendapatkan beasiswa ke Amerika, aku akan melanjutkan kuliah disana.”

Aku telah memutuskan untuk menggunakan beasiswa itu. Beasiswa yang telah lama saem tawarkan padaku. Tadi pagi aku mengambilnya. Appa menatapku dengan tatapannya yang bijaksana, hanya satu orang yang bisa ku percaya hanya appa. Meskipun ia bukan appa kandungku. Ia mengangguk pelan dan tersenyum penuh arti.

“Kapan kau akan berangkat ?”

“Besok pagi. Aku akan menyiapakan barang barang untuk dibawa besok.”

Aku keluar dari ruangan kerja-nya. Aku akan meninggalkan negara ini. Meninggalkan appa, Lee Donghae dan Choi Jinri. Aku memandangi kamarku yang akan segera ku tinggalkan. Begitu banyak kenangan yang menyedihkan hingga menyenangkan. Aku pasti akan merindukan senyuman appa. Suatu hari nanti ketika aku telah mencapai mimpiku, aku akan kembali untuk appa.

“Aku mendengarnya…”

Suara berat Donghae terdengar begitu sedih atau itu semua hanya perasaanku saja. Tiba tiba ia berjalan mendekati-ku dengan tatapan penuh arti yang tidak bisa aku arti-kan. Aku memandangnya dengan tatapan datar. Lalu mengapa kalau ia mendengarnya ? Ini semua bukan urusanku. Tiba tiba tangannya meraih raga-ku dan memelukku erat.

“Kau akan ke Amerika ? Tanpa memberitahuku ?”

“Apakah penting ?”

Suaraku terasa agak bergetar menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan yang cukup menusuk. Tapi bukankah benar apakah kepergianku penting ? Untuk apa memberitahukannya. Aku berjalan pelan menjauhi sosok donghae yang memandangku dengan tatapan sayu. Sebenarnya…aku ingin berlari ke pelukannya, merasakan hangatnya pelukannya, merasakan detak jantungnya. Apakah detak jantungnya terasa lebih cepat ketika ia memelukku atau tidak ? Sungguh, suatu hari nanti aku ingin diberikan kesempatan untuk merasakan itu semua. Tapi bukan saat ini.

“Mungkin di matamu sosok Lee Donghae tidak pernah sempurna.”

“Mungkin di matamu sosok Lee Donghae hanya seorang laki laki yang tidak pernah memperhatikan sekitarnya.”

“Kau harus tahu aku memang tidak pernah sempurna. Tapi aku selalu memperhatikan dari caramu berjalan, caramu makan, caramu menatap seseorang atau bahkan caramu menyembunyikan air mata, caramu memalingkan wajahmu ketika aku tersenyum padamu.”

“Kau harus tahu mengapa aku terlihat begitu buruk didepanmu. Aku hanya terlihat begitu buruk didepanmu. Aku hanya terlihat begitu bodoh bila didepanmu. Dan itu hanya didepanmu aku-pun tak tahu mengapa itu semuanya bisa terjadi.”

Aku terdiam. Membeku. Mendengarkan segala kata kata yang keluar dari mulut seorang Lee Donghae. Suara helaan nafas Donghae terdengar begitu berat. Kali ini, aku benar benar berharap lebih.

“Aku tahu aku bodoh. Silahkan kau menilai apapun diriku. Tapi ingat satu hal seberapa jeleknya diriku di matamu. Aku tetap mencintaimu.”

Tiba tiba bulir bulir air mata perlahan turun dari mata-ku. Mengapa aku menangis ? Apakah aku sedih akan meninggalkan sosok Lee Donghae ? Sosok yang selalu menghiasi hari-ku dengan segala kebodohannya. Kedua lengan Lee Donghae meraih bahuku. Dengan cepat ia menarikku kedalam pelukannya.

“Mianhae…..”

Setelah agak lama ia memelukku aku mulai mengucapkan kata. Entahlah hanya permintaan maaf yang dapat keluar dari mulutku.

Jebal joheun yeoja manna…”

 

Suaraku yang terdengar serak ketika mengatakan kata kata yang berarti kumohon..bertemulah dengan yeoja yang lebih baik dariku. Aku sadar. Aku tidak pernah pantas untuknya. Lebih baik aku tidak berharap terlalu banyak. Aku akan melepaskannya untuk seseorang yang lebih baik.

“Aku berharap kau bisa bahagia dengan seseorang yang benar benar baik.”

Kali ini aku benar benar melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar dengan segenap tenaga yang kupunya. Aku sudah cukup menangis untuk hari ini.

***

Akhirnya aku telah lulus dari universitas cukup terkenal di Amerika, sungguh kebanggan tersendiri bagiku. Aku akan melanjutkan bekerja di Korea saja. Mungkin lebih baik bekerja bersama bangsa bangsa sendiri selain meningkatkan penghasilan rata rata negara juga membuatku dekat dengan appa lagi. Aku sungguh merindukan sosok appa yang begitu bijaksana. Bagaimana keadaan dirumah setelah 6 tahun ini ?

Bagaimana keadaan Lee Donghae…apakah ia menemukan seseorang yang lebih baik dariku ? aku benar benar menghindarinya selama di Amerika. E-mail darinya satu-pun tidak ada yang ku balas. Sekedar mengatakan halo saja tidak. Aku ingin ia benar benar melupakanku, meskipun aku sama sekali tidak bisa mengenyahkan sosok bermarga lee itu dari pikiranku. Aku masih mengingat pelukan hangatnya….aroma tubuhnya…dan detak jantungnya adalah hal yang paling susah untuk dilupakan. Jantungnya berdetak sangat cepat. Aku merindukannya….apakah ia merindukanku ?

“Jes..sica ?”

Aku segera menoleh mendengar seseorang memanggil namaku. Seperti sebuah keajaiban sosok Lee Donghae sedang ada dihadapanku menatapku dengan wajahnya yang berseri seri. Jadi appa menyuruh Donghae untuk menjemputku. Aku hanya tersenyum kaku menatapnya yang tidak berubah sedikitpun.

“Kau tahu Jung Sooyeon…”

Here they are Lee Donghae has start again…sekarang aku akan mendengarkannya..

“Sejak hari kau meninggalkanku dan mengatakan padaku untuk bertemu dengan yeoja yang lebih baik.”

“Meskipun begitu banyak yeoja di negara ini. Entah mengapa tidak ada yang sepertimu.”

“Tidak ada yang bisa membuatku terlihat bodoh, tidak ada yang bisa membuat jantung-ku ini berdetak lebih cepat.”

“Tidak ada yang bisa membuatku memikirkannya sepanjang hari”

“I love you and always be.”

Sepagi ini, masih jelas terasa jetlag dan aku mendapatkan sebuah pernyataan cinta sepagi ini. Aissh jinjja Lee Donghae apakah ia tidak bisa menungguku sampai dirumah dan tidur baru menyatakan cinta. Dan dengan bodohnya ini masih di bandara. Otomatis banyak mata yang memandang kami entah dengan tatapan apa. Sulit kuartikan.

“Baboya.”

Ia menatapku penuh dengan pertanyaan. Biarkan saja. Ia memang terlihat sangat bodoh saat di depanku dan aku baru saja menyadarinya tch Jung Sooyeon sebenarnya yang bodoh siapa. Aku segera menarik tangannya keluar dari Bandara dan menuju mobil.

“Bagaimana jung sooyeon ? Apakah harus kuulangi lagi ?”

“Aniya..tidak usah.”

“Saranghaeyo Jung Sooyeon. Kali ini aku tidak akan membiarkan yeoja manapun mengganggu dirimu.”

“Eung…Nado saranghae Lee Donghae.”

Aku memalingkan wajahku menatap kaca mobil dengan senyuman samar. Aku bahagia dan aku benar benar tidak percaya ia masih menungguku selama itu. Aku melirik ekspresi Donghae melalu spion mobil. Wajahnya tampak sangat berseri seri. I wont let him go. Forever. I love you.

The End

 

***

YEAAH THANK YOUU :3 It’s finally finish:”) please wait for my next fanfiction:3 thanks readeeer~

Ice Princess, her stepsister, and namja part IV

barbie girl

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cast   : Jessica Jung, Lee Donghae, Choi Sulli, Ok Taecyeon.

“Sooyeon Noona, Gwaenchanayo ?”

Kedua mata Sooyeon berusaha terbuka agar ia bisa melihat pemilik suara itu. Taecyeon sedang menatapnya penuh kekhawatiran, Sooyeon mendesah. Di dalam hatinya ia ingin sekali orang yang ada di depannya ini adalah Lee Donghae bukan Taecyeon. Sooyeon hanya mengangguk tak peduli, ia mengalihkan pandangannya kepada sebuah jendela tepat di samping kamar tidurnya. Ia menangkap sosok Donghae dan Jinri yang sedang berjalan melewati jendela kamar itu. Mereka bergandengan tangan, erat sekali. Tiba tiba Jinri memandang Sooyeon dari balik jendela dan tersenyum licik. Senyuman itu seolah menandakan ‘Donghae resmi milikku’.

Sooyeon POV

Tch. Aku berdecak pelan, pasti anak kecil itu sengaja lewat di depan jendela kamarku. Dasar menyebalkan. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan melihat Taecyeon sedang meramu obat untukku. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan ke meja belajarku. Pelajaran bahasa inggris yang menurutku sangat mudah, karena aku sudah tinggal di Amerika sebelumnya. Aku membaca setiap soal dengan teliti, soal yang kedua aku melihat sebuah surat dengan bahasa inggris. Aku merasa aku mengingat sesuatu yang berhubungan dengan surat. Mataku membulat, surat ? Surat yang dikatakan Donghae kemarin, kira kira surat apa ? Surat cinta ? Sooyeon-ya apa yang ada dipikiranmu ? Surat cinta ? Mana mungkin hal seperti itu terjadi, memikirkannya saja membuat pipiku memerah.

“Noona sebaiknya kau minum vitamin ini. Agar kau tidak kecapaian untuk belajar.”

Taecyeon sudah berada di sebelahku memberikan ramuannya tadi. Aku segera meminumnya daripada aku pingsan lagi seperti kemarin, jadi apa nanti nilai ujianku ?
Tok tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu, sesosok makhluk tampan muncul di hadapanku. Sialan, mengapa aku jadi meracau seperti ini ? Sejak kapan aku memuji Donghae tampan. Semoga wajahku tidak memerah, ini memalukan. Donghae tersenyum melihatku, DEG DEG DEG jantungku bergetar lebih cepat. Perasaan apa ini ? Aku merasa hanya dengan senyumannya saja membuatku teraliri aliran listrik, dan rasa ini membuatku bahagia. Dan membuatku seperti bukan aku yang biasanya.

“Sooyeon-ah, maafkan aku. Kemarin aku harus membuatmu istirahat, agar kau tidak mudah sakit.”

Ia menggaruk rambutnya dengan canggung. Aku tersenyum dalam hati, ia sangat memperhatikanku. Bukankah seharusnya ia lebih memperhatikan kekasihnya Choi Jinri ?
Aku memasang ekspresi dingin seperti biasa.

“Kau seharusnya bersama Jinri, aku tidak suka anak kecil itu meracau hanya karena kau datang kesini.”

Aku mendesah pelan, mengingat Donghae adalah kekasih Jinri. Donghae terlihat santai, ia seperti tidak peduli dengan Jinri. Benarkah itu ? Tapi mengapa ia selalu mesra bersama Jinri ? Apa makhluk ini playboy ?

“Kau baik baik saja kan ? Istirahatlah yang cukup.”

Donghae membalik badannya dan melangkah mejauhi kamarku, aku mendesah pelan. Mengapa aku berharap lebih ? Mengapa aku berpikir ia akan membantah kata kataku ? Dasar Jessica babo.

“Kau menyukainya, Noona ?”

Sialan, apa yang dikatakannnya ? Bagaimana ia bisa mengamatiku dari sudut itu ? Aku membalik badanku dan sekarang aku berhadapan dengannya. Aku menatapnya dingin.

Taecyeon POV

Tch. Noona, jangan berbohong kepada perasaanmu sendiri. Aku sedari tadi melihatmu berusaha menembunyikan wajah cantikmu dari tatapan Donghae. Wajahmu memerah setiap Donghae tersenyum padamu. Tch. Sejak kapan kau mencair Noona ? Mengapa bukan aku saja yang mencairkan esmu ? Aku selalu ada disisimu, bukan ?

Sooyeon Noona meninggalkanku terdiam di kamar yang berusaha untuk merasa tidak patah hati. Aku tidak akan menyerah. Aku berjalan keluar kamar, suara tamparan menggema di penghujung ruangan.

“Nappeun saram ! Dia itu KEKASIHKU Jung Sooyeon !”

Aku menghampiri suara Jinri yang cukup ku kenal itu. Dan benar saja Jinri benar benar tidak terima Donghae mendekati Sooyeon Noona, mengapa melampiaskannya kepada Sooyeon Noona ? Bukankah Donghae yang mendekati Sooyeon Noona duluan ? Aku segera memisahkan kedua gadis cantik itu, Sooyeon Noona hanya diam saja.

“Mengapa kau disini ? Pergilah aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita murahan ini.”

Jinri berteriak di depan wajahku. Sialan, kau memang mencintai Donghae tapi bukan begini caranya. Aku tidak akan mencintai seseorang dengan cara yang sama dengan Jinri, meskipun aku tahu ia sama sekali tidak menyukaiku. Aku menggandeng tangan Noona dengan erat, dan menariknya pergi dari hadapan Jinri.

Kau seharusnya tidak sepasrah itu Noona, aku tahu kau sangat kuat. Ia menatapku tajam, tidak ada kata terima kasih seperti biasa. Kebiasaan yang sepertinya tidak dapat kau ubah Noona. Tapi aku tetap senang bisa ada disisimu seperti ini.

“Kau harus membela dirimu Noona.”

Ia hanya menatapku dingin, sambil berdecak. Ia tidak peduli bila ia ditampar adiknya ? Ia tidak peduli dengan rasa sakit di pipinya ? Kau benar benar membingungkan. Babo. Tapi aku mencintaimu. Aku benar benar mencintaimu.

“Kau bodoh ? Sebelum kau datang mengacaukan semuanya, aku ingin menamparnya balik. Mengapa kau merelai ? ”

Aku membelalak, seharusnya aku tahu pasti tidak mungkin ia tidak membalas tamparan Jinri. Haha. Aku benar benar menyukainya ketika ia berbicara panjang seperti itu.

Mwo ? Tidak mungkin Sooyeon melakukan itu kepada Jinri. Itu aneh. Bila Jinri tidak memulainya duluan mana mungkin Sooyeon akan menamparnya sampai berdarah seperti itu ? Tadi Jinri datang kepadaku dengan sudut bibirnya yang berdarah dan menceritakan kalau Sooyeon datang kepadanya dan memarahinya, bahkan menampar Jinri. Err.. Apa aku percaya pada Jinri begitu saja ? Aku harus tahu dari Sooyeon sendiri. Aku berjalan keluar dari ruangan dan mengajak Jinri untuk menemui Sooyeon.

Gadis itu sedang duduk memandang langit. Sendirian. Aku berjalan menghampirinya. Ia menatapku lalu melihat ke arah Jinri. Ia mengalihkan pandangannya dari aku dan Jinri.

“Kau menampar Jinri ?”

Sooyeon membelalak, tapi ia hanya diam. Tidak peduli. Apa kau ingin kehilangan kepercayaanku ? Apa ia benar benar menampar Jinri ? Memang, aku harus percaya kepada Jinri yang lebih lama aku kenal. Tapi ini aneh. Mana mungkin Sooyeon repot repot menampar Jinri ?

“Aku belum menamparnya.”

tiba tiba Sooyeon memandang mematikan kepada Jinri. Sooyeon kembali diam dan menatap lurus. Tiba tiba Taecyeon datang dan membawa buku pelajaran, ia tersenyum dan memberikannya kepada Sooyeon. Sooyeon menekuri buku pelajarannya tanpa memedulikan lagi aku dan Jinri.

“Donghae hyung, ada apa ini ? Dan mengapa Jinri berdarah seperti itu ?”

“Sooyeon menamparnya.”

Mata Taecyeon terbelalak, ia terkejut ? Taecyeon tampak aneh, apa benar Sooyeon menampar Jinri ? Mengapa ekspresi Taecyeon menunjukkan penolakan yang sangat jelas.

“Hyung. Justru Jinri yang menampar Sooyeon Noona.”

Hah ? Jinjjayo ? Apa Jinri berbohong padaku ? Aku memandang Sooyeon bertanya tanya mengapa ia begitu tidak peduli dengan masalah ini. Mungkin menurutnya ini bukan sebuah masalah ?

“Aniyo. Aku di tampar Sooyeon unnie. Oppa, kau percaya padaku kan ?”

Aku menatap kekasihku yang ingin segera ku putuskan saja. Apa aku harus percaya padanya ? Atau gadis dingin itu ? Tiba tiba Sooyeon menutup bukunya dengan keras. Ia menghampiriku dengan tatapan dinginnya, ia begitu dekat. Aigo. Aku mundur sedikit, tapi dengan cepat ia maju lagi lalu menatap mataku dalam. Matanya dalam dan dingin.

“Aku tidak peduli. Terserah kau percaya pada siapa aja. Bukan urusanku.”

“Dan kau Choi Jinri, rantai saja kekasihmu itu agar tidak datang kepadaku.”

Jessica pergi begitu saja setelah mengucapkan beberapa kalimat yang sangat dingin. Dia tidak peduli ? Aku berpikir untuk percaya padanya. Aku tersenyum sendiri. Babo. Aku tahu kau juga menyukaiku kan Sica-ya ? Jangan terlalu dingin. Tapi bukankah aku mempermainkan Jinri ? Entahlah. Kadang cinta harus egois bukan ? Bila cinta tidak egois akan rumit.

“Jinri-ya. Aku tahu kau mencintaiku bukan seperti oppa-mu. Dan maaf aku tidak bisa mencintaimu selain sebagai adikku.”

Aku menatap mata Jinri dalam, matanya berair. Daripada aku terlalu lama membuatnya jatuh ke dalam sandiwaraku untuk membuat Sica cemburu. Ia tersedu sedu, air matanya menetes berkali kali. Di pipi putihnya berkali kali mengalir air matanya, ia menunduk.

“Waeyo oppa ? Sooyeon hanya makhluk dingin dan tidak berarti apa apa.”

Aku menatapnya dalam, dasar anak kecil. Ia memang belum begitu dewasa untuk mencintai seseorang seperti itu. Aku tahu ia berbohong hanya untuk mendapatkan perhatianku, tch.

“Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya.”

Author POV

Sooyeon pulang dari sekolahnya dengan perasaan gembira, karena hari ini pengumuman hasil ujian telah dibagi dan ia mendapatkan skor tertinggi se-sekolahnya. Sooyeon putus sekolah lulus dari SMP beberapa tahun sehingga ia menjadi agak tua diantara siswa SMA lainnya. Senang tidak senang wajah Sooyeon selalu datar dan dingin.

“YA ~ Mengapa kau terlihat agak baik daripada biasanya ?”

Suara Donghae memanggil Sooyeon membuyarkan kesenangan Sooyeon. Sooyeon membalikkan badannya dan menghadap Donghae yang sedang tersenyum padanya. Sooyeon menunduk, meskipun ia suka melihat Donghae tersenyum padanya. Tapi bila ia mengangkat wajahnya, ketahuan sekali wajahnya memerah hanya karena senyuman Donghae. Donghae menarik kertas dari tangan Sooyeon yang ia genggam erat. Donghae tersenyum membaca isinya, sebuah penghargaan kepada Jung Sooyeon karena mendapat peringkat satu sesekolahnya.

“YA~ Baguslah, pingsanmu waktu itu terbayar dengan ini.”

Donghae mengacak acak rambut Sooyeon, Sooyeon mengangkat wajahnya karena terkejut. Wajahnya memerah. Seseorang memandang mereka dari kejauhan, tersenyum pahit. Sooyeon hanya diam, ia senang dengan perlakuan Donghae kepadanya.

“Kau mau ku traktir di tempat makan favoritmu ?”

Sooyeon mengangguk malu, ia terlalu malu untuk menunjukkan sisi lain selain dingin.

********************************

“Aku penasaran dengan surat itu, apa kau menerimanya ?”

Donghae memandang Sooyeon lekat, Sooyeon yang sibuk dengan makanannya. Sooyeon menatap Donghae datar. Sooyeon menggeleng, lalu ia kembali melanjutkan acara makannya. Donghae memandang arah lain, ia penasaran apakah Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepada Sooyeon ?

“Aku menitipkannya pada Jinri.”

Sooyeon menatap Donghae heran, Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepadanya. Sooyeon hanya diam. Jinri memang tidak pernah dewasa, batin Sooyeon. Dua orang itu sibuk dengan pikiran masing masing, sampai mereka tidak sadar seseorang terus mengikuti mereka dari awal Jessica bersama Donghae. Jessica perlahan tersadar seseorang sedang memandangnya dari tempat yang jauh. Matanya mencari cari seseorang yang sedang mengawasinya, ia melihat ke jendela restauran. Tidak ada yang tampak mencurigakan baginya. Seseorang berbaju hitam bersembunyi di balik tembok yang cukup besar, ia tahu Jessica menyadari keberadaanya. Ia hanya diam bersembunyi, tidak mau keluar dari persembunyiannya.

“Waeyo ?”

Donghae bertanya karena Sooyeon sedari tadi menoleh ke arah yang berbeda berkali kali. Ia menyadari keanehan yang ditimbulkannya. Sooyeon hanya menggeleng ragu. Ia melanjutkan makannya yang sudah tinggal beberapa suap lagi.

Drrt Drrt Drrt

“Yoboseyo ?”
…….
“Mwo ? HAJIMAYO !”
…….
“Tunggu aku, aku akan kesana.”

Giliran Sooyeon yang memandang aneh Donghae, Donghae berteriak teriak tak jelas. Donghae segera keluar dari restauran tanpa mengatakan apa apa, wajahnya tampak penuh kekhawatiran. Sooyeon hanya diam, dan tersenyum pahit.

Sooyeon POV

Perlahan air mata membasahi pipiku, aku menutupi wajahku dengan tangan. Padahal aku sudah mulai mempercayaimu Donghae. Apa kau tidak mencintaiku ? Setidaknya katakan apa yang terjadi. Bukan seperti ini caranya hanya meninggalkanku begitu saja. Ini sudah cukup menyakitkan. Seolah kau baru saja membuatku terbang jauh dan membuatku jatuh bergitu saja ke tanah.

Aku berdiri dan pergi meninggalkan restauran ini daripada aku hanya duduk dan menangis. Aku memandang sekitarku, lagi lagi aku merasa ada yang mengawasiku. Tiba tiba seseorang berbaju hitam berjalan di sebelahku, aku mempercepat langkah tapi tetap saja ia sejajar denganku. Sialan, siapa orang ini.

“Stop following me.”

Aku berteriak dan segera berlari menjauhi orang bodoh itu. Aku sedang tidak ingin bertemu siapa siapa. Tiba tiba sesuatu terlintas dalam pikiranku. Apakah tadi Jinri yang menelepon ? Mengapa Donghae begitu panik ? Padahal Jinri adalah orang ia putuskan beberapa hari lalu. Itu berarti ia tidak menyukai Jinri, kan ?

“Uljimayo.”

Aku berjalan di atas garis hitam putih untuk menyeberang ke sisi lain, tiba tiba aku melihat seseorang dengan baju hitam tadi melepaskan penyamarannya. Tch. Taecyeon menatapku khawatir, apa selama ini ia selalu mengikutiku ? Ia bodoh sekali. Aku sudah menghapus air mataku. Aku berjalan menjauhinya.

“Jangan pernah memandangku sebagai seorang dongsaeng atau anak kecil. Karena aku mencintaimu.”

MWO ?! WHAT THE HELL ?! Otaknya sedang berjalan tidak baik. Aku berbalik dan memelototinya, dasar manusia bodoh. Tapi matanya menunjukkan keseriusan yang mendalam. Aku hanya diam menatapnya, bagaimana bisa ia mencintaiku ? Aku segera menarik tangannya agar pergi dari tengah jalan. Ini tengah jalan, dan ia dengan asyiknya menyatakan cintanya padaku. Aku menarik tangannya tapi tiba tiba ia memegang tanganku erat. Aku melepaskan tangannya dengan paksa ketika selesai menyebrang. Tapi ia tidak mau melepaskan tangannya.

“Mwoya ! Lepaskan aku. Apa kau mau aku berteriak ?”

Aku berteriak sehingga membuat orang orang lain menoleh dan memandang kami curiga. Tapi ia tetap bersikukuh tidak melepaskan tangannya.

“Biarkan seperti ini, Noona. Aku merasa sesuatu akan terjadi padaku.”

Aku menatapnya heran. Err… Sesuatu akan terjadi ? Tapi itu bukan urusanku kan ? Untuk apa aku menurutinya. Aku tetap berusaha melepaskan tangannya, sayangnya tangannya sangat kekar. Sial. Aku menyerah. Ia menggandengku sampai tiba di halte. Aku duduk menunggu bus, ia telah melepaskan gandengan tangannya yang membuatku cukup lega. Ia diam saja sambil melihat jalanan di depannya.

DJ put it back on

Suara ringtone pesan membuatku terkejut, aku melihat ponselku. Satu pesan masuk dari Donghae ? Beraninya ia. Hanya meninggalkanku lalu mengirim pesan dengan santainya ? Aku benci sekali padanya. Tapi apa salahnya membuka pesan darinya.

Sooyeon-ah. Mianhae aku meninggalkanmu.
Jinri akan bunuh diri. Jadi aku harus kesana.
Tapi untunglah aku berhasil membujuknya, apa kau mau aku jemput sekarang ? Atau kau ingin pulang sendiri. Sebenarnya aku masih bersama Jinri. Kau lebih dewasa, jadi kau pasti mengerti. Pulanglah sendiri.

Mwo ? Pulanglah sendiri. Air mata menetes lagi di pipiku, aku kesal padamu Lee Donghae. Mengajakku pergi dengan senyumanmu yang maut itu, lalu meninggalkanku tanpa apa apa. Dasar bodoh. Aku tidak akan percaya padamu lagi. Air mataku semakin deras. Apa aku cemburu ? Tentu saja aku cemburu lebih dari cemburu. Seenaknya saja datang dan pergi. Siapa menyuruhmu kembali lagi Donghae ? Dengan kesal aku melempar ponselku ke jalanan. Tiba tiba Taecyeon berjalan pelan mengambil ponselku itu di tengah jalan, aku hanya menatapnya datar.

Tiiin Tiiiin

BRUUUK, tubuh kekar Taecyeon terhempas di jalanan dengan keras. Mobil menabraknya. Mataku tak bisa berhenti hanya menatapnya. Segera saja aku berlari ke arah Taecyeon yang sudah tidak berdaya.

To Be Continued

Woaah it’s been a long timee. This story will end sooon :”) sorry it’s too late:3 check fanfiction page for the previoous part~

My New Tumblr

My new tumblr. I’ll post photos there. Not here because it’s too hard from wordpress. But the fanfiction I’ll post it in here.

It filled with screen capture by me from many MV. Quotes. and etc. Still random.

http://randomkorea.tumblr.com/

Forever Girls Generation

Forever Girls’ Generation

Genre:  Friendship

Cast    :  All SNSD member

Author Note : YEAH NEW FF ~

I’m big fans of SNSD but i wanna make this fanfic just for entertain reader, i don’t have any intention. I’m never wanna my favorite group disbanded. Just for fanfic ~ Sambil dengerin lagunya SNSD yang forever ya ~

Taeyeon tersenyum memandang semua member SNSD di depannya yang telah banyak berubah. Mereka lebih dewasa, dan berbicara seperti orang yang benar benar dewasa. Taeyeon masih menyanyi tetapi di bawah naungan JYPE, tapi itu sudah sangat jarang. Mungkin faktor dirinya yang semakin tua, dan tidak lagi melakukan tingkah tingkah yang lucu di variety show. Sekarang ini, ia hanya berbicara sebagai seorang sunbaenim yang diam dan percaya diri di variety variety show. Selain itu, ia berencana akan membuka perusahaan hiburan baru dan uangnya telah ia tabung sejak lama.

Jessica merasakan perubahan besar sahabat sahabatnya, bila dulu ketika semua member berkumpul timbul kericuhan yang sulit dibendung. Sementara ini, ia sering mengajar bahasa inggris sebagai kerja sambilan saja. Karena suaminya termasuk orang yang cukup sukses, sehingga Jessica hanya menjadi pengajar freelance.

Sunny menjadi seorang penulis freelance juga, ia menjadi tidak terlalu terikat dengan karyanya. Pamannya Lee Sooman memberikan sebagian sahamnya untuk suami Sunny, jadi mereka masih memiliki sebagian saham SME. Ia menjadi sangat dewasa.

Tiffany baru datang dari Amerika karena e-mail Taeyeon, Taeyeon mengatakan akan mengatakan sesuatu. Sekarang ini, Tiffany dan saudaranya menjalankan bisnis toko online yang menjual segala sesuatu yang mereka desain sendiri. Toko online-nya cukup sukses.

Hyoyeon masih tersenyum jahil seperti dulu, tapi wajahnya lebih cerah. Ia masih seorang dancer, atau dia adalah guru dance freelance di SM. Hanya bila sempat saja ia datang, meskipun ia tidak bisa dipanggil guru dance, ia adalah asisten guru dance yang berasal dari Amerika. Bila guru itu tidak datang, ia menggantikannya. Ia senang dengan pekerjaannya ia bisa agak santai.

Yuri masih suka kkab dance, karena menurutnya kkab adalah sesuatu yang keren. Ia menjadi MC di acara music ternama di Korea. Ia tidak ingin melakukan pekerjaan yang lebih berat lainnya. Ia suka menjadi seorang MC.

Sooyoung kini menjadi seorang stylist untuk artis artis yang memintanya memilihkan baju. Ia seorang stylist terkenal. Ia merasa bisa agak santai dengan pekerjaannya sebagai stylist. Hobinya bisa tersalurkan dengan baik.

Yoona adalah seorang aktris, sampai kapanpun ia adalah aktris. Dramanya sangat banyak, apalagi filmnya. Ia memperoleh banyak penghargaan.  Tetapi ia diam diam telah berhasil mendapatkan saham SM, meskipun hanya sedikit. Ia berpikir untuk tidak selamanya menjadi aktris, ia bisa menabung untuk nanti.

Seohyun adalah seorang penulis juga berbeda dengan Sunny yang karyanya adalah fiksi. Buku Seohyun bergenre self improvement, genre yang menurut Seohyun sangat bagus. Buku buku bergenre seperti itu adalah buku yang membuat seseorang berubah menjadi lebih baik.

Tapi semua dari mereka sedang memutar pikirannya ketika mereka terakhir kali di stage bersama atau bersembilan dengan pink ocean.

*******

“Hari ini adalah hari terakhir kalian berada di panggung bersama sama atau bersembilan, kontrak kalian telah habis.”

CEO SME itu menjelaskan hari terakhir SNSD berada di panggung, SNSD telah menyelesaikan International Concert-nya di kota kota besar di seluruh penjuru dunia. Hari ini mereka mengakhiri konser mereka di Seoul, Korea Selatan negara dimana nama mereka di besarkan. Mereka menatap member member lain yang tampak bingung harus melakukan apa bila semuanya sudah berakhir, tapi yang membuat mereka senang adalah mereka berpisah secara baik baik tanpa ada pertikaian antar member atau masalah kontrak. Hari ini adalah hari terakhir mereka menikmati teriakan fans memanggil SNSD, terakhir kali mereka melihat lautan pink yang seringkali membuat mereka terharu, terakhir kali melihat senyuman SONE yang benar benar menantikan SNSD yang sangat bersinar.

“Ok. This is our concert, ehm our last concert. Konser terakhir kita sebagai sembilan orang. Nine angels, atau grup berkaki panjang, atau apalah sebutan mereka untuk kita. Kita akan selalu bersinar meskipun kita tidak selalu bersama.”

Tiffany menghembuskan nafasnya yang sesak, ia hanya menahan tangisnya agar tangis member lain tidak pecah. Bila mereka menangis sekarang, mereka tidak akan bisa berkonsentrasi untuk konser terakhir mereka. Akhir akhir ini Tiffany lebih banyak tersenyum bila bersama anggota SNSD lain. Ia tidak mau saat saat terakhir mereka bersama sama diisi dengan pertikaian. Ia ingin semuanya berjalan dengan baik, make up sudah terbubuh di wajah member SNSD. Mereka benar benar siap untuk sebuah akhir, Tiffany menatap masing masing member yang mendengarkannya dengan baik.

Jessica terlihat menahan air matanya, dengan cara yang aneh yaitu mengalihkan perhatiannya pada pembicaraan ini. Ia berkali kali menatap bayangannya di cermin.

Sedangkan Taeyeon, ia hanya berdoa supaya air matanya tidak jatuh. Sebagai leader ia selalu ingin terlihat lebih kuat.

Hyoyeon sang dancing queen, ia hanya tersenyum lembut mendengarkan kata kata Tiffany. Hari ini tidak ada senyuman jahil seorang Hyoyeon.

Yuri hanya mengigit bibir bawahnya, ia tahu semua yang ia takutkan akan terjadi dimana ada pertemuan suatu hari nanti ada perpisahan.

Seohyun sang maknae yang sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang polos ia sudah mengerti ini saatnya SNSD berpisah.

Akhir akhir ini, Sunny semakin sering mengeluarkan Aegyonya mungkin ia ingin semua member mengingat bagaimana dirinya membuat aegyo yang membuat semua orang sebal.

Yoona, sang aktris kini akan meninggalkan SNSD tapi SME sudah menyiapkan sesuatu yang lain untuknya yaitu Drama terbaru untuk Yoona. Yoona merasa ia akan kehilangan sosok Yuri yang membantunya menggoda Tiffany, atau member member lain yang membantunya ketika naskah drama diberikan, mereka akan membantu Yoona sebagai peran lain dalam naskah tersebut. Sooyoung, sosok yang sangat baik dalam hal berbicara dan menirukan orang lain. Kini ia hanya menunduk, ia pasti merasa aneh bila tanpa kedelapan temannya yang sangat beragam itu.

“Ayo, kita harus naik ke panggung.”

Taeyeon tersenyum ketika memasuki arena stage SNSD, ia benar benar ingin seperti ini selamanya. Pink Ocean. Mereka harus terlihat kuat apapun yang terjadi, mereka harus profesional. Lagu pertama adalah Genie, Genie kali ini adalah remix dengan tambahan Jessica ad-lib yang pertama tama merupakan lagu demo mereka.

Mereka melakukan solo dengan baik. Hyoyeon yang semakin baik dalam bernyanyi membuat fansnya terkagum kagum dengan kemampuannya yang semakin bagus. Yuri menyanyikan lagu pelan yang menunjukkan vokalnya yang serak dan stabil. Sooyoung melakukan solo dengan dance yang agak berat, tapi ia sanggup menyanyikan live. Sunny yang menyanyikan lagu yang pelan juga membuat fans melihat berbagai sisi Sunny yang berbeda, ketika ia ber-aegyo atau menyanyikan lagu beat, atau ketika Sunny menangkap ayam dengan berani, Taeyeon melakukan dance yang agak berat tapi tentu saja ia bisa bernyanyi live, Jessica dan Tiffany melakukan duet yang menunjukkan suara mereka yang kuat dan falset mereka yang sangat baik, Yoona bernyanyi solo dengan lagu yang pelan seolah ia menunjukkan ia adalah penyanyi yang baik dan bukan hanya cantik saja, Seohyun bernyanyi bukan lagi lagu yang agak classic tapi lagu dengan beat yang cepat.  Membuat fans menerka nerka ada apa dengan SNSD yang tiba tiba melakukan peningkatan dengan hebat dan melakukan solo yang berbeda dengan biasanya.

Di akhir konser mereka menyanyikan lagu Forever. Mereka benar benar menjaga emosi mereka hingga ketika part Jessica yaitu Reff kedua, ia menjatuhkan air matanya dan tidak bernyanyi. Ia menundukkan kepalanya, tiba tiba ketika ia menengadahkan kepalanya SONE telah bernyanyi bersama menggantikan Jessica yang menangis. Taeyeon harus benar benar menjaga suaranya ketika ia selesai mencapai High note. Ia memandang member membernya yang sudah meneteskan air mata. SONE berteriak bersama “ULJIMA” (Don’t Cry). Ketika lagu berakhir Taeyeon yang belum menangis mengambil alih keadaan dan berbicara. SNSD diberi waktu untuk berbicara di akhir konser karena ini memang akhir konser mereka, mereka akan diberikan kesempatan berbicara tanpa paksaan untuk membaca naskah.

“Annyeong haseyo, aku KimTaeyeon leader SNSD yang tidak akan berubah dari tahun 2007. Aku ingin mengingatkan kalian ketika awal kami debut. Dashi mannan segye ! Lagu debut kami.”

tiba tiba sebuah video muncul di layar, member SNSD terkejut karena ini bukan keinginan mereka. Mereka hanya menatap video tersebut dengan bingung. Tampak di layar Live performance mereka ketika debut, wajah mereka yang sangat fresh dan muda. Dan muncul lagi foto foto mereka yang saling berpelukan membentuk lingkaran, mereka menangis bersama. Dan muncul foto foto predebut mereka yang palsu, yang menimbulkan kontroversi. Wajah itu sengaja di coret, dan tulisan muncul di layar. Menyakitkan.

Talentless 9 Girls

They have nothing

Plastic Dolls

Stupid Generation

Plastic Generation

 

Hyoyeon menangis ketika membaca itu semua, semua julukan itu adalah mimpi buruk mereka di awal debut. Awalnya mereka tidak dapat diterima, mereka sangat tidak dapat diterima. Apalagi semua orang meragukan suara Hyoyeon. Taeyeon telah berada di sebelah Hyoyeon mengenggam erat tangannya berharap ia bisa mentransfer kekuatannya untuk Hyoyeon.

Video mereka saat Baby baby, Kissing You, Gee, Genie, Oh!, Run Devil Run, Hoot, Mr. Taxi, dsb. muncul bergantian. Mereka merasa we’ve been gone so far dan yang terakhir sebuah video berjudul Forever dengan backsound lagu mereka yang berjudul Forever, ini adalah versi semua member SNSD bukan hanya Jessica. Videonya hampir sama seorang SONE sangat mencintai SNSD, Anti fans muncul dan melempari SNSD dengan sesuatu SONE berdiri di depan SNSD dan melindunginya dari segala sesuatu yang mengarah ke SNSD sampai seluruh tubuhnya terluka tapi sebelum SNSD mengucapkan terima kasih kepadanya, SNSD dipanggil oleh manager mereka untuk segera pergi dari tempat itu. SONE itu tersenyum dan menyuruh SNSD pergi dari tempat itu. Fans SNSD yang ada di stadium itu menangis tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada SNSD.

“Annyeong haseyo, aku dan member member lain sangat berterima kasih kepada kalian semua terutama SONE yang telah mendukung kami dari awal sampai akhir. Kami akan selalu mengingat fans yang selalu ada di sisi kami, kami mencintai kalian. Saranghaeyo. Aku tidak berpikir apa apa saat ini …”

Taeyeon berhenti berbicara dan menangis pelan, ia memberi isyarat agar Sooyoung yang melanjutkan pembicaraan yang harus mereka umumkan.

“Annyeong terima kasih untuk kalian semua, jangan pernah lupakan SNSD apapun yang terjadi. Kami menjadi semakin kuat karena kalian, Maaf bila selama ini SNSD membuat kesalahan yang cukup fatal atau kata kata kami yang membuat kalian sedih. Karena hari ini adalah hari terakhir kami sebagai girlgroup 9 sembilan orang atau SNSD.”

Sooyoung berusaha menahan tangisnya ketika di barisan terdepan, fans mereka saling berpegangan tangan ketika mendengar kata terakhir dari mulut Sooyoung. Mereka meneteskan air mata, ini adalah akhir sebuah girlgroup pekerja keras yang selalu mereka dukung dari awal hingga saat ini ketika mereka telah berhasil mengambil hati semua orang. Hyoyeon dengan berusaha tersenyum mengambil alih pembicaraan ini

“Terima kasih atas dukungan kalian selama ini, kalian telah berhasil membuat kami seperti sekarang.”

Taeyeon hanya menunduk, ia berusaha melakukan semuanya. Ia merasa sudah selesai perjuangannya menjadi seorang leader. Ia mendongak dan melihat seisi stadium yang menangis dan hanya berpegangan sesama SONE yang lain tiba tiba, ia mendengar dari barisan belakang mereka memulai bernyanyi Forever tapi reff akhir.

Even if a very long time passes (A long time passes)

Even if you and I become a bit different (A bit different)

I want to dream forever with you like this

The one who became my miracle, the one who dreamed with me, with you.

Seisi stadium kini bernyanyi bersama, mereka seirama, mereka benar benar hebat. Ini adalah akhir yang indah untuk SNSD.

———————

Setelah keluar dari panggung masih dengan menangis, semua member berpelukan membentuk lingkaran dan berbicara.

“Ini adalah akhir dari SNSD, tapi bukan akhir dari hidup kita semua.”

“Aku percaya kalian akan menemukan lagi sesuatu yang baik.”

Taeyeon berusaha tersenyum kepada membernya meskipun suaranya mulai serak karena ia telah benar benar memberikan segalanya untuk konser hari ini. Mereka melepaskan pelukan mereka dan menuruti manager mereka untuk kembali ke dorm dan membenahi koper dan barang barang mereka.

Mereka sibuk dengan pikiran masing masing, mereka telah sangat lama bersama. Mereka tidak pernah merencanakan sesuatu setelah mereka berpisah.

————

Mereka masuk ke dorm dengan mata bengkak. Yoona berjalan ke arah TV, entah mengapa ia butuh TV saat ini. Ia tidak peduli ini adalah hari terakhir mereka bersama sama. Yuri duduk disebelah Yoona yang menonton TV dengan pandangan kosong, ia merasa Yoona agak tertekan karena semuanya tahu hanya Yoona yang masih terus bersama SME sebagai Im Yoona, aktris bukan lagi sebagai SNSD Yoona. Mereka semua telah membawa koper mereka keluar dari kamar masing masing. Lalu mereka duduk di lantai dengan lelah. Yuri berdiri dan mengajak Yoona untuk duduk bersama yang lain di lantai.

“Aku ingin kita berkumpul sejenak.”

Taeyeon menyuarakan sesuatu yang sedari tadi ada di pikirannya, karena ia tidak ingin berpisah begitu saja dari mereka. Mereka duduk melingkar, entah mengapa Sunny ingin saja menaruh lilin di tengah mereka dan dengan cepat ia matikan lampu. Member member lain heran dengan situasi yang gelap ini tapi mereka hanya pasrah.

Cahaya lilin yang kuning tidak memberi mereka cahaya yang cukup.

“Mari kita ingat di awal debut kita. Apakah sesuatu telah berjalan baik ?”

“Cukup baik, bila aku mengangkat tanganku ketika dance ‘annyeong’ di lagu Into the new world. Atau ketika aku tidak mencederai kakiku sendiri ketika promosi Hoot. Aku ingin sekali berada di samping kalian ketika Golden Disk Award, aku ingin menangis bersama kalian bukannya di rumah sakit menangis sendirian.”

Tiffany terisak mengingat ketika ia awal debut, ketika ia banyak dibenci orang entah karena alasan apa. Ia memeluk lututnya, dan terisak terus. Ia telah meninggalkan daddy-nya di Amerika dan tinggal di Korea untuk debut, tapi sepertinya ia akan kembali ke Amerika.

“Aku ingin memperbaiki kesalahan sebagai main vocal yang buruk ketika Taeyeon menyanyi dengan keras, aku hanya lipsync. Dan itu buruk ketika aku mendengarkan Music Removed-nya di Youtube, mereka bilang aku main vocal yang tidak bertanggung jawab. Ketika promosi Hoot aku berusaha memperbaikinya. Dan bila diberi kesempatan aku tidak akan menjadi sleep-aholic. Dan aku bisa saja menambah waktuku bersama kalian, tersenyum bersama, menangis bersama, menasehati Yuri agar tidak terlalu berlatih.”

Ia tersenyum pahit ketika mengatakan semua itu, bila ia tahu ia akan bermain lebih banyak dengan SNSD. Ia akan datang ke radio Taeyeon dan membawakan makanan untuknya atau ia akan ke tempat syuting Yoona dan menyemangatinya atau memberi selamat padanya ketika ia mendapat penghargaan untuk debutnya sebagai aktris di drama debutnya yaitu You Are My Destiny. Andai saja Jessica bisa mengulang saat itu, Yoona memegang bahunya, dan memberi kekuatan Jessica untuk tidak terlalu menyesali segala sesuatunya.

“Aku akan mendengarkan segala sesuatu tentang Taeyeon unnie, aku menyesal tidak mengerti tentang unnie. Aku ingin menjadi dongsaeng yang baik untuk kalian, maafkan aku yang sering memanggil kalian unnie-deul dengan tidak sopan.”

Sooyoung tersenyum menatap unnie-deul nya, ia benar benar merasa bersalah. Ini adalah terakhir kalinya, entah mengapa ia terlalu bingung untuk melanjutkan kemana setelah SNSD bubar.

“Andaikan aku tidak menjadi Aktris, pasti aku akan banyak bersama kalian. Andai aku disisi kalian lebih banyak, aku tidak akan menyesal. Andai aku bukan seorang aktris.”

Yoona benar benar sedih, ia bermimpi menjadi seorang aktris, sekaligus penyanyi dan penari tapi memang terlalu berlebihan untuknya. SM merekrutnya menjadi seorang aktris.

“Aniyo Yoona-ya, kau tahu kau lebih suka berakting. Kami tidak ingin bakatmu sia sia Yoona.”

Taeyeon menjawab pernyataan Yoona, ia tersenyum melihat unnienya yang tidak jelas terlihat di atas cahaya lilin.

“Aku berharap tidak melakukan kesalahan dance di stage. Itu memalukan sekali. Terlalu banyak bahkan, aku berharap aku bukan dancer juga. Hyoyeon memang sangat lebih baik.”

Hyoyeon mengerucutkan bibirnya, karena ia juga sering melakukan kesalahan dance. Dalam sekejap ia tersenyum lembut, Yuri selalu merendahkan dirinya.

“Aku berharap seorang Hyoyeon unnie mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, bukan tenggelam bersama kami. Hyoyeon unnie paling sedikit mendapatkan screen-time, paling sedikit mendapatkan part menyanyi, padahal ia adalah seorang bintang yang tersembunyi di antara 8 member yang lain.”

Hyoyeon meneteskan air matanya mendengar makne SNSD yang sangat dewasa mengatakan semua itu. Padahal Hyoyeon tidak pernah mengatakan apapun ketika ia hanya mendapatkan screen-time yang sedikit atau bahkan ia hampir invisible.

“Hyoyeon unnie tidak pernah mengeluh mengenai itu, karena aku tahu ia percaya pada kita agar bersinar lebih terang. Aku selalu menyadarinya unnie.”

“Aku tidak suka mengeluh, aku memiliki cara tersendiri untuk membuat camera mengarah kepadaku. Aku akan dikenali, tapi dengan cara yang lain. Bukan dengan cara screen-time ataupun part menyanyi. Aku tahu SONE lebih tahu diriku, mereka memiliki cara sendiri memandangku.”

Hyoyeon mengatakan sesuatu yang membuatnya bangga pada fansnya. SONE tahu cara mereka memandang SNSD. Taeyeon meneteskan air mata mendengar kata Dancing Queen SNSD itu, member lain terdengar terisak pelan tanpa suara.

“Seohyun-ah maafkan aku yang telah membuat semua orang berpikir akulah maknae. Seharusnya aku bisa lebih dewasa daripada kau.”

Seohyun tersenyum dan masih menunduk, ia akan merindukan bagaimana mereka semua tertawa. Ia akan merindukan tawa Yoona yang menampakkan semua giginya, ia akan merindukan Taeyeon yang sangat merawat semua member dengan sikap ahjummanya dan tawa ahjummanya, Hyoyeon yang selalu melakukan kegilaan di dorm mereka ia tahu bila mereka tidak bersembilan terasa lebih sepi, Yuri yang akan melakukan kkab dancenya atau melakukan keahliannya meniru dinosaurus, Sooyoung yang berbicara dengan baik bahkan SM sampai melarangnya membuat candaan yang membuat semua orang tertawa, Tiffany yang suaranya akan naik ketika gembira, Jessica yang tidur dimanapun, Sunny yang selalu cerah dan melakukan aegyo.

“Kita adalah selamanya SNSD. Meski 10 tahun telah berlalu.”

Flashback END.

“Aku memiliki sebuah rencana. Bagaimana kalau Sembilan dari kita semua membuat sebuah perusahaan hiburan.”

Taeyeon memulai berbicara setelah dari tadi mereka memutar pikiran mereka. Semua member SNSD menatapnya heran, mereka berpikir bagaimana Taeyeon mendapatkan ide seperti itu ? Tapi Jessica dan Tiffany tersenyum menanggapi ide Taeyeon.

“Taeyeon jjang ! Taeyeon jjang !”

Suara Sooyoung sangat keras membuat semua orang menoleh ke arah 9 perempuan cantik yang sedang duduk di pojok café dengan hanya memesan minuman masing masing satu. Yuri melotot ke arah Sooyoung yang sampai sekarang tidak bisa menjaga volume suaranya. Member yang lain menjawab setuju dengan mata mereka yang berbinar binar. Jadi inilah cara leader SNSD membuat SNSD bersatu kembali dengan cara yang berbeda. Mereka semua di undang di café ini oleh Taeyeon untuk mengatakan hal seperti ini.

***

9 entertainment, sebuah entertainment baru muncul di saat perusahaan perusahaan hiburan yang lain tengah bersaing agar mendapatkan perhatian masyarakat. Menariknya, founder 9 Entertainment adalah mantan anggota SNSD. Mereka akan melakukan pengajaran oleh mereka sendiri. Mereka merekrut aktris, actor, penyanyi, group, dancer, comedian, MC, dsb. Mereka kembali dengan cara yang berbeda.

 

   THE END

Perfect Life

Title     : Perfect Life

Author: PSHtaegangunite

Rated   : nggak tahu ._.

Cast      : Park Soonhye, Lee Junho (2PM), Jang Wooyoung (2PM), IU, Park Chorong (A-PINK), Park Gyuri (KARA), Park Kahi (After School), Jung Eun Ji (A-PINK)

Jangan pernah mengharapkan kehidupan yang sempurna

Kau tidak bisa menjadi sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna

Jangan mengharapkan kesempurnaan pada dirimu yang bahkan akan menghancurkanmu

Suara kagum saudara saudara Soonhye terdengar jelas disetiap sudut ruangan. Mereka berdecak kagum melihat semua prestasi yang diperoleh keluarga park apalagi GyuRi, yeodongsaeng Soonhye. Mulut mulut saudara saudara Soonhye berkali kali mengucapkan astaga, aigo, dsb. Semuanya menunjukkan kekaguman yang ditujukan pada Gyuri, anak emas Park Kahi. GyuRi hanya tersenyum bangga, sambil sesekali melirik Soonhye unnienya. Acara arisan keluarga yang setiap tahun dilaksanakan itu kali ini bertepatan di rumah Soonhye, menurut Kahi, umma Soonhye ia bisa menyombongkan anak emasnya gyuri yang sudah memenangkan kompetisi kompetisi balet dimana mana.

“Ini semua piala Park GyuRi dengan berbagai kompetisi balet dan ia selalu menjadi pemenangnya.” Ucap umma bangga.

Sesekali ia memandang GyuRi dengan tatapan betapa bangga aku memiliki anak sepertimu. SoonHye hanya diam menunduk, ia tidak suka suasana ini. Meskipun berkali kali ia berlatih balet, bahkan ia berlatih balet dari kecil tapi semua orang termasuk gurunya mengatakan ia sama sekali tidak memiliki bakat yang diwariskan orang tuanya. Ia ingat benar betapa sedih wajah orang tuanya, ketika mengetauhi betapa tidak berbakatnya anak mereka ini. Padahal ia adalah anak pasangan penari balet paling terkenal Park Kahi dan Park Yoochun.

“Soonhye-ya, tolong jangan duduk disana ! Kami harus memindahkan kursi ini untuk GyuRi.” Ucap salah satu orang kepercayaan umma, atau lebih menjadi bodyguard GyuRi.

Soonhye POV

 

Aku tak habis pikir, aku juga anak umma. Mengapa bodyguard ini bertingkah seolah aku bukan atasannya. Tapi percuma aku memarahinya, ia bahkan tak mendengarkanku. Ia sudah seperti umma yang hanya mendengarkan Park GyuRi. Umma dan dunianya, toh aku tak peduli.

“Lalu Soonhye, kau tidak pernah memenangkan sesuatu dalam hal balet ?” Tanya seorang saudara Soonhye.

Menusuk sekali. Tapi biarkan bakatku tidak pada balet. Umma bertingkah aneh, sesekali ia terbatuk dan mengalihkan pembicaraan. Ya, itulah cara umma menghilangkan pembicaraan tentang anaknya yang bernama SoonHye ini.

Busan Art school. Author POV.

 

Seorang namja tersenyum menatap yeoja berkulit putih, pendek, tapi cantik. Lee Jieun. Namja itu tersenyum melihat yeoja itu bercerita panjang lebar, berkeluh kesah tentang sesuatu. Sesekali yeoja itu cemberut, meskipun cemberut yeoja itu masih sangat cantik. Jang Wooyoung dan Jieun melanjutkan pembicaraan mereka sambil duduk. Mereka terlihat sangat akrab bahkan seperti dunia hanya berputar disekitarnya tanpa mereka peduli apa yang terjadi disekitarnya. Tanpa sadar seorang yeoja tinggi berkulit tidak coklat, dan tidak putih. Tidak memiliki bakat memandang keduanya iri. Wooyoung adalah orang yang sangat disukai yeoja itu, Soonhye.

Soonhye melihat pasangan yang sangat serasi itu dari jauh, muncul perasaan iri pada Jieun. Jieun memiliki segalanya, wajah yang cantik, bakat yang memukau yaitu menyanyi, kekasih yang tampan. Perfect life. Sesuatu yang sangat diinginkan Soonhye sejak lama, ia sudah lama menyukai Wooyoung bahkan sebelum memiliki seorang kekasih. Tapi Wooyoung melihat Soonhye saja tidak, kebiasaan orang orang di sekitar Soonhye adalah tidak bisa melihat Soonhye yang mendadak kasat mata.

SoonHye POV

 

Aku tidak hidup menjadi pemeran utama. Tidak dirumah, tidak di sekolah. Dilihat orang saja tidak. Aku masuk sekolah ini karena test, itulah satu satunya kelebihanku yaitu mengerti banyak tentang musik. Hari ini adalah test penempatan bakat, semua orang menunjukkan bakatnya. Tapi apa yang harus kulakukan aku tak mengerti sama sekali bakatku !

“Annyeong haseyo, ah kau adalah saudara Park Gyuri bukan ? Aku adalah fans beratnya bisakah kau memintakan padanya tanda tangannya dan fotonya ?” Ucap seorang namja tampan, tapi maaf dia fans Gyuri aku tidak tertarik dengan fans Gyuri.

“Ah annyeong haseyo. Aku Lee Junho.”

Aku jadi berpikir berarti aku tidak terlalu invisible sampai sampai namja sipit ini bisa melihatku bahkan sampai menyapaku, tapi tetap saja karena Gyuri. Aku memegang kertas dan bolpoin yang ia berikan padaku agar Gyuri menanda tanganinya. Aku berdehem, grogi. Bukan berarti aku menyukai namja bermata sipit itu. Aku memang seperti ini terlahir dengan grogi yang berlebihan bila dengan seorang namja, siapapun itu. Aku sudah berusaha untuk tidak grogi.

“Emm..ma..af.. Junho-ssi, kau minta sendiri pada GyuRi.”

Setelah berbicara seperti itu aku berusaha mengatur nafas yang tidak beraturan hanya karena berbicara dengan namja. Aissh. Namja itu terlihat kecewa, Tiba tiba smirk muncul di wajahnya.

“Ehm…Aku adalah Lee Junho, sepupu Jang Wooyoung. Dan aku tahu kau memperhatikan Wooyoung dan Jieun sedari tadi.”

Gleek. Rasanya seperti menelan seekor katak. Selama ini aku tidak pernah ketahuan. Apa maksudnya ini ? Baru saja kenal sudah mendapatkan masalah. Aku tak bisa membiarkan Junho mengatakan sesuatu pada Wooyoung. Aku tahu mau Lee Junho, yaitu tanda tangan Gyuri. Ok, baiklah. Dasar namja jelek.

“Emm, baiklah Junho-ssi.”

Aku segera mengambil kertas dan bolpoin yang dibawa Junho, dan beranjak pergi dari pandangan Junho. Namja aneh yang jelek, tidak seperti Wooyoung yang berkharisma, bisa dance dengan baik heran bagaimana bisa Junho adalah saudaranya. Aku tahu banyak tentang Wooyoung karena sebelumnya kami satu sekolah.

“Bagaimana kau bisa masuk sekolah ini ?”

Aku menoleh pada Junho, apa maksudnya ini ? Nada bicaranya juga sangat dingin. Mengejek atau bertanya. Bahkan tidak ada bedanya. Sifat namja ini tidak bisa ditebak, kadang aku merasa namja ini jahil, tapi dingin juga. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan namja ini.

“Tes”

Author POV

“Untuk semua siswa siswi baru segera ke ruang tes penempatan bakat.”

suara di speaker mengagetkan kedua orang yang sedang berjalan beriringan itu. Junho tersenyum pada Soonhye.

“Semoga beruntung.”

Soonhye terkejut dengan tingkah Junho, baru kenal tapi sok akrab. Tapi cukup membingungkan bagi Soonhye yang jarang berbicara dengan orang lain. Junho berjalan menjauh dari Soonhye, yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Soonhye berjalan ke ruangan yang ditentukan. Ia bernomer urut 3, jadi ia harus benar benar cepat atau dikeluarkan dari penempatan bakat dan dibuang ke sekolah lain.

“Untuk peserta nomer 2 segera masuk ruangan atau didiskualifikasi. ” Suara wanita di speaker itu dengan keras. Soonhye telah berada di depan ruangan, tapi ini bukan gilirannya. Namja bernama Wooyoung berlari lari dan segera masuk ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan senyuman bahagia, matanya mencari cari sosok kekasihnya Jieun.

Soonhye telah masuk ke dalam ruangan yang menegangkan itu 3 orang juri menatap tajam Soonhye. Salah satunya berbisik pelan kepada yang lain. Mereka tahu Soonhye adalah putri pertama Keluarga Kahi yang sering disebut malapateka, karena Soonhye tidak memiliki bakat apa apa. Soonhye berdiri kaku.

“Apa yang akan kau tunjukkan ?”

“Balet ?”

juri juri itu terkekeh ketika seseorang diantara mereka berkata balet.

“Bagaimana bisa kau masuk sekolah Yang penuh bakat ini ? MENYUAPKAH ?”

“Maaf saya belum mengetauhi bakat saya, tapi saya lulus tes tentang musik.”

Juri diruangan itu membuat takut Soonhye, akhirnya 3 juri itu menyuruh Soonhye pergi dan diputuskan Soonhye masuk kelas paling akhir. Kelas-tanpa-bakat. Soonhye keluar dari ruangan tersebut dengan wajah menunduk. Ia malu, sedih, hampir saja wajahnya ia basahi dengan air mata tapi tiba tiba seorang yeoja tersenyum padanya. Ia tahu yeoja itu tersenyum padanya meskipun ia sedang menunduk karena jujur yeoja itu pendek.

“Apakah yang dilakukan mereka padamu ?”

“Apa mereka menyakitimu nomer 3 ?” Tanya yeoja cantik dengan senyumnya yang khas itu sambil melihat nomer audisi untuk penempatan bakat.

Soonhye terus menunduk menurutnya yeoja itu sok kenal dengannya sama seperti Lee Junho. Ia berjalan menjauhi yeoja itu, tetapi yeoja itu mengikuti Soonhye. Nomer yang diletakkan di dada yeoja itu terlihat nomer 1, berarti ia telah lebih dulu diaudisi.

“Annyeong haseyo, aku ingin berkenalan denganmu namaku Jung EunJi. Kau lulus tes dengan nilai tertinggi itukan ?”

“Baiklah kalau kau tidak ingin berkenalan, aku pergi saja Soonhye-ssi.”

Soonhye sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tak peduli dengan yeoja cantik itu. Ia tidak ingin memiliki teman terlalu sempurna seperti itu. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah terkenal di Busan itu dengan bosan, ia memang hebat tentang musik tapi ia tidak bisa main musik, tidak bisa bernyanyi, tidak bisa menari. Ia tiba dikelas dimana atasnya tertulis dengan jelas.

1-05

Kelas yang mengenaskan, terbuang, tempat anak anak tidak berbakat tapi entahlah tes pertama bisa lolos.

Soonhye POV

Aku tidak suka menyebutnya kelas anak terbuang meskipun kenyataannya begitu. Menurutku kelas ini adalah untuk anak anak yang memiliki bakat terpendam yang dirinya sendiri saja tidak tahu bakatnya. Sepertinya aku anak pertama yang masuk kelas ini, bagaimana bila nanti tidak ada yang masuk kelas ini hanya aku saja ? Sebenarnya kelas ini bagus bila dibersihkan. Tak apalah, mungkin disini nanti aku akan menemukan bakatku. Aku duduk di salah satu bangku paling depan di dekat meja guru. Apa sebaiknya aku duduk dibelakang saja ya ? Emm sebaiknya aku duduk depan saja. Suara sepatu berjalan di koridor, aku mendengarnya. Ia pasti akan masuk kelas ini karena tempat ini memang agak diasingkan jadi satu satunya kelas di sekitar sini ya hanya kelas ini. Siapa murid kedua kelas ini ?

“AISHHH… Kau lagi.”

Aku hanya diam ketika menatap seorang namja bernama Lee Junho yang tadi pagi ia temui. Lee Junho memakai headphone yang membuatnya seolah orang keren saja. Dia aneh, gayanya sok keren tapi sebenarnya tidak sama sekali. Bagaimana bisa orang keren masuk kelas seperti ini ? Berarti aku baru saja mengategorikan diriku sebagai orang tidak keren. Ah sudahlah. Namja itu berjalan melewati bangku-ku dan duduk di belakang bangku-ku. Suara kaki lagi, seperti hendak menuju kesini.

“AH, annyeong haseyo. Aku Park Chorong, ehm. Boleh aku duduk disebelahmu ?”

“Boleh.” Ucapku seadanya, dia duduk di sebelahku. Menurut pengamatanku (?) ia cantik sekali, mungkin ia juga tidak mengerti bakat apa yang dimilikinya.

“Namamu siapa ?”

“Aku Park Soonhye. Senang berkenalan denganmu.”

“Soonnn…hyee ? Kakak perempuan Gyuri ?”

Yeoja itu tercengang, tentu saja. Pasti ia berpikir kakak Gyuri ini tidak memiliki bakat ? Aku memiliki bakat tapi aku tak tahu bakatku apa. Terkadang aku ingin menjadi Jieun ataupun Eunji atau Gyuri, yang sangat berbakat. What a perfect life they have.

“Wow, aku beruntung bertemu denganmu. Kau nomer satu di sekolah ini dengan tes itu.”

“AKU ? Kau tidak berpikir aku bodoh ? Tidak memiliki bakat seperti orang tuaku atau adikku ?”

“Aniyo. Aku tidak berpikir seperti itu.”

Author POV

Hari pertama di Busan Art High School membuat Soonhye lelah karena ia, Junho, dan Chorong harus menunggu murid “sisa” yang datang sampai 3 jam. Isi kelas itu menjadi 10 anak. Hanya 10 anak itu sudah termasuk Junho, Chorong, dan Soonhye. Baru setelah audisi benar benar selesai, seorang guru yang merupakan wali kelas 1-05 masuk kelas dan mengumumkan tentang peraturan sekolah, dsb, dsb.

Soonhye hanya bingung di tempat tidurnya, ia tidak tidur. Ia memikirkan Wooyoung masuk ke kelas mana. Tiba tiba HP Soonhye bergetar. 1 new message.

Jangan lupakan tugasmu, Soonhye.

From : +621345****

TUGAS ? Ini siapa ?

Sent

Lee Junho saudara sepupu JANG WOOYOUNG.

From : +621345****

Kau bohong kan ? Gotjimal ~ Aku tidak percaya kau sepupunya.

Sent

AH ~ Baiklah kau tidak percaya padaku kan ?

From : +621345****

 

+621345**** calling

 

“Yoboseyo, JUNHO-SSI aku tidak percaya padamu.”

“Yoboseyo. JUNHO-YA ! Mengapa kau memberikan ini padaku ?”

Suara namja berteriak di seberang telepon. Ia sedang berteriak memanggil Junho, wajah Soonhye mengeluarkan ekspresi penuh dengan kecemasan. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa suara ini adalah suara Wooyoung. Tangannya gemetaran, lututnya lemas. Ia bingung harus berkata apa.

“Jang Wooyoung ?”

“Ne, aku wooyoung. Maaf aku bukan Junho. Bagaimana kau tahu aku Wooyoung ?”

Soonhye berdiri kaku didepan cermin, ia melihat refleksinya sendiri sedang berdiri diam ketakutan. Ia tidak menyangka ia bisa bertanya Jang Wooyoung ? Diseberang telepon. Junho telah merebut ponselnya dari tangan Wooyoung, lalu ia segera memutuskan panggilan dengan Soonhye.

Dengan segera tanpa menunggu perintah lagi dari Junho, ia berlari ke depan kamar Gyuri. Biasanya adiknya itu sedang ada dikamarnya sepulang sekolah. Ia mengetuk pintu kamar Gyuri.

“Masuk.”

Kamar Gyuri yang penuh peralatan balet membuat Soonhye terkagum, meskipun ia sering ke kamar ini.

“Temanku meminta tanda tangan dan fotomu. Aku meninggalkan kertasnya disini.”

Ia segera pergi karena Gyuri terlihat sedang sibuk berdiri diatas ibu jari kakinya. Gyuri memang sangat anggun. Tiba tiba saja Gyuri berhenti dari aktivitasnya, ketika Soonhye sedang berjalan keluar dari kamar adiknya itu.

“Tunggu unnie. Apa kau berpikir aku sempurna ?”

Soonhye terkejut dengan pertanyaan Gyuri. Ia berbalik lalu melihat Gyuri duduk di tepi tempat tidurnya, wajah Gyuri sarat akan lelah yang luar biasa. Entah mengapa Soonhye merasa Gyuri sedang ingin bersamanya.

“Tentu saja, kau memiliki bakat yang sangat bagus. Cantik, anggun, dsb.”

Tiba tiba Gyuri tersenyum, wajahnya kembali ceria. Soonhye masih berdiri di depan pintu. Soonhye dengan entengnya berbicara begitu.

“Kalau begitu terima kasih unnie.”

Busan Art High School

 

“Bagaimana ? Kau berhasil mendapatkannya kan ?”

Segera saja Soonhye mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Foto Gyuri dan tanda tangannya. Junho tersenyum devil. Tiba tiba Jieun dan Wooyoung berhenti didepan mereka, Junho tersenyum aneh.

“Junho-ya. Apa ia kekasihmu ? Yang sampai sampai kau berani masuk kelas buangan itu” Ucap Wooyoung yang membuat Soonhye terkejut setengah mati, matanya terbelalak. Junho mendelik(?) terkejut.

“HAH ? ANIYO.” Jawab Junho keras, Jieun hanya terkikik di sebelah Wooyoung.

Soonhye merasa aneh, apa maksud wooyoung ? Junho masuk ke kelas itu dengan sengaja agar bertemu seseorang ? Apa maksudnya ?

At Class 1-05, Soonhye POV.

 

“Sebenarnya kalian memiliki bakat, itu terbukti kalian bisa berhasil masuk dengan tes.” Ucap Kim songsaengnim yang sedari tadi berceramah tentang bakat. Aku hanya diam memikirkan yang dikatakan Wooyoung tadi pagi.

“Soonhye, saya ingin mendengarmu bernyanyi.”

Aku terkejut aku segera berdiri dengan tergagap mana aku bisa menyanyi. Ia memberikan music sheet padaku. Judul lagunya There You’ll Be – Faith Hill.  Dan kebetulan saja aku tahu lagunya dengan baik. Tapi ini termasuk kategori susah, karena banyak high note. Kim songsaengnim menyuruhku menyanyikan lagu itu dari chorus sampai high note. Astaga, tes yang lumayan susah. Sebenarnya aku sama sekali tidak pernah bernyanyi, karena aku piker suaraku jelek.

Well you showed me how it feels,
To feel the sky within my reach,
And I always will remember all,
The strength you gave to me,
Your love made me make it through,
Ohh I owe so much to you,
You were right there for me.

Chorus:

In my dreams I’ll always see you soar above the sky,
In my heart there’ll always be a place for you,
For all my life,
I’ll keep a part of you with me,
And everywhere I am there you’ll be,

Cause I always saw you in my light, my strength,
And I wanna thank you now for all the ways,
You were right there for me, you were right there for me
Always

In my dreams I’ll always see you soar above the sky,
In my heart there’ll always be a place for you,
For all my life,
I’ll keep a part of you with me,
And everywhere I am there you’ll be

And everywhere I am there you’ll be

Aku sudah mencoba dengan baik, entah seperti apa jadinya suaraku itu. Aku senang karena suaraku tidak crack begitu saja. Ketika menyanyi aku lebih banyak memejamkan mata, tapi ketika sesekali aku membuka mata. Mengapa wajah teman temanku berubah menjadi shock dan kagum seperti itu ? Aku sangat percaya diri.

“Mengapa kau tidak bernyanyi saat penempatan bakat ? Suaramu sangat merdu penuh dengan kejutan. Suaramu kuat, pernafasanmu teratur. Kau seharusnya tidak ada disini.”

Mataku terbelalak karena pujian pujian Kim Songsaengnim, jadi apakah aku menemukan bakatku ? Akhirnya, terima kasih Tuhan. Ini begitu menyenangkan, bagaimana ketika Umma mendengar suaraku ? Astaga aku ingin cepat pulang. Wajah Junho terlihat kagum, bingung, seperti campur aduk. Aku tersenyum padanya, lalu duduk kembali. Tiba tiba seorang guru lain masuk ke kelas dan berbicara serius dengan Kim Songsaengnim.

“Park Soonhye. Kau diizinkan pulang karena Park Kahi sakit keras.”

Author POV

Perasaan Soonhye campur aduk, baru saja ia akan mengatakan bakat yang sesungguhnya pada ummanya. Tapi malah seperti ini. Ia tahu ummanya tidak pernah sesayang seperti Gyuri dengan Soonhye. Meskipun begitu Soonhye berkali kali menteskan air mata.

“Umma, ternyata aku bisa menyanyi dengan baik. Kim songsaengnim memujiku.Apa kau ingin mendengarkannya ?”

Soonhye menggenggam tangan kanan umma dengan erat, wajah Soonhye berantakan. Gyuri berada di sisi lain tempat tidur ummanya. Gyuri terlihat sangat sedih, wajahnya lelah, pucat dan semuanya campur aduk. Mereka tak ingin kehilangan ummanya setelah appanya meninggal 7 tahun lalu.

Kerutan kerutan di wajah Park Kahi semakin terlihat, kedua mata Kahi terbuka. Soonhye terkejut lalu segera memeluk Kahi, sedangkan Gyuri menangis bahagia karena 5 jam terakhir Kahi tidak membuka matanya.

“Soonhye, aku ingin kau bernyanyi untukku.”

Suddenly, i was frightened by the ringing phone
my mom’s worried voice asked if i’ve eaten
these words annoyed me but today it’s different
The forgotten promises are remembered

I will be a person with pretty heart
And become a person who is selfless
I’ll keep the love of my mother’s wishes
I think of mother who used to share my dreams and brush my hair

Though I’ve made hurtful wrong choices
You silently watched over me from behind
But now I think more than an innocent child
The meaning of mom’s silent prayers

(dear. Mom – SNSD English translation)

Tangan Soonhye masih memegang erat tangan ummanya, diakhir lagu. Tangan ummanya melemah. Tapi ia mengatakan dengan mata yang sudah tertutup.

“Aku mencintaimu meskipun kau tidak memiliki bakat.”

Soonhye menangis, ia menutup wajahnya. Ia tahu Ummanya telah meninggalkannya dan Gyuri. Gyuri terlihat sangat sedih, ia tersiksa. Ia berkali kali berkata.

“Umma, aku melakukan ini semua untukmu. Jangan seperti ini, buka matamu.”

Next day.

Hari ini Soonhye tidak masuk sekolah, ia menemani gyuri yang sangat Syok. Seringkali Gyuri menatap foto Umma lalu berkata dengan nada yang aneh.

“Sempurna. Itukan yang umma mau aku sudah sempurna. Tapi kemana kau pergi ?”

Soonhye sering menangis meskipun ia masih bisa terlihat tegar didepan orang orang banyak yang sedang datang untuk menyampaikan turut berduka cita atas kematian ummanya. Tiba tiba Eunji, Wooyoung, Junho, dan Chorong datang. Chorong menatap Soonhye perhatian ia mengerti Soonhye sedang sangat tertekan. Soonhye berusaha tersenyum ketika Wooyoung datang, ia berpura pura kuat. Satu hal yang diherankan Soonhye, Wooyoung tidak datang bersama Jieun. Ketika Eunji, Wooyoung, dan Chorong telah pulang. Junho masih saja menemani Soonhye, Soonhye menatap halaman rumahnya dengan tatapan kosong dan tertekan. Junho memandangnya dengan perhatian.

 

 

FLASHBACK

Junho yang masih berumur 7 tahun berjalan keluar rumahnya. Ia akan berangkat ke sekolah, ia berjalan karena memang jarak rumah dan sekolahnya tidak jauh. Tiba tiba ia melihat gadis seumurannya rambutnya diikat dan pita berwarna Pink mecolok bertuliskan Soonhye menangis di depan gedung besar sekolah balet. Gadis itu duduk di tanah dengan baju ketat untuk berlatih balet, gadis itu menangis semakin keras apalagi ketika melihat ke salah satu ruangan, ruangan itu adalah dimana Guru baletnya dan orang tuanya berbicara. Sesekali Gadis itu mencuri dengar pembicaraan itu,

“Maaf, anak kalian tidak berbakat sama sekali.”

“Tidak mungkin, aku tidak mungkin memiliki anak tidak berbakat seperti itu.”

“Anak itu adalah anak ballerina terkenal. Bagaimana bisa ia tidak berbakat menari balet ?”

“Mungkin ia bukan anak kita.”

Junho juga mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung di ruangan tersebut karenaia telah mendekai posisi gadis itu.

“Tidak mungkin manusia tidak memiliki bakat.”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang sembap karena ia terus menangis. Junho tersenyum padanya sambil mengulurkan tangannya agar gadis itu berdiri. Gadis itu menerima uluran tangan Junho, ia berdiri dan berhenti menangis.

“Apa benar aku memiliki bakat ?”

“Tentu saja, tapi kau akan menemukannya suatu saat nanti. “

“Soonhye, kita harus pulang.” Teriak umma Soonhye yang sudah menunggu di dalam mobil. Soonhye berlari meninggalkan Junho, tapi sejenak ia menoleh lalu tersenyum dan berbisik terima kasih.

Junho tersenyum sendiri setelah Gadis itu pergi. Ia geli pada dirinya sendiri yang mendadak bijaksana itu.Tiba tiba ia melihat pita pink kecil bertuliskan Soonhye, ia mengambilnya dan menyimpan benda itu dalam sakunya.

Flashback end.

Busan Art High School.

Pagi pagi sekali Soonhye sudah duduk di tempat biasa ia duduk, ia tidak masuk sekolah selama 15 hari karena ia harus menjaga Gyuri yang sekarang sering pingsan. Kata dokter Gyuri terkena Anemia yang parah karena disebabkan kelelahan yang terus menerus, Gyuri bilang ia terlalu berambisi menjadi penari balet yang sempurna. Ia berlatih dari pagi hingga tengah malam. Ia sekolah di sekolah balet itu hanya sampai pukul 3 sore. Tapi ia melanjutkan latihannya dirumah. Sekarang Gyuri menjadi lebh dewasa, dan tidak syok lagi dengan kematian ummanya. Gyuri bercerita ia ingin dilihat umma sebagai perfect ballerina.

Tiba tiba saja Wooyoung datang dan duduk di sebelah Soonhye, untung saja saat ini kelas sedang sepi. Soonhye otomatis menjauhkan duduknya dari Wooyoung, jantungnya selalu berdegup kencang bila bersama Wooyoung.

“Soonhye, apa kau baik baik saja ?”

“Em, ne. Gwenchanayo.”

Soonhye tidak tahu Junho sedang memperhatikan mereka dari luar kelas. Ia menatap sedih, tapi Junho tahu Soonhye bahagia bersama Wooyoung.

“Kau tahu Jieun memutuskan hubungan dengan Wooyoung berhari hari yang lalu di hadapan banyak orang.” Kata Chorong ketika Wooyoung telah pergi. Mata Soonhye membelalak, bagaimana bisa mereka kan pasangan paling serasi ?

“HAH ? Apa alasan Jieun memutuskan Wooyoung ? Tidak masuk akal.”

“Jieun menyukai namja lain yaitu Lee Junho.”

Soonhye POV

HAH ? Berita hari ini benar benar menohok perutku dengan keras. Kalau menurutku Junho itu tampan. Tunggu mengapa aku bisa berpikiran begitu ? Sejak kapan aku menganggap Junho tampan ? ARGH aku semakin aneh sejak aku tidak masuk sekolah.

“Apa disaat Jieun bilang ia menyukai Junho, apa Junho ada disana ?” Tanyaku penasaran. Mungkin kalau Junho tahu tingkat kepercayaan dirinya semakin meningkat, bahkan mungkin ia semakin sombong saja.

Chorong menggeleng. Junho datang tapi ia tidak lagi duduk dibelakangku. Ada apa dengan namja itu ? Biasanya ia suka sekali mengusiliku. Aneh.

“Junho-ya. Mengapa kau duduk disitu ?” Tanyaku kepadanya yang sedang melihat ke luar kelas. Aku memang sudah akrab dengannya sejak insiden minta tanda tangan dan foto Gyuri itu. Junho berdiri dan berjalan ke bangkuku. Ia sekarang berada di depanku.

“Selamat Soonhye. Sebentar lagi mimpimu menjadi kenyataan, Wooyoung bilang kepadaku akan berbicara serius denganmu nanti sepulang sekolah.” Ucapnya lalu ia tersenyum, ia tampan kalau tersenyum seperti itu. Tunggu dulu, mengapa jantungku berdetak cepat. Dan tadi sorot matanya seolah sedih menyampaikan berita itu.

After bell school rang. Soonhye POV.

Benar kata Junho, Wooyoung ke kelasku dan ingin berbicara serius denganku. Jantungku berdegup kencang tapi tidak seperti biasanya. Biasanya bila aku dekat Wooyoung terasa lebih keras detakannya.

“Kau mau menjadi kekasihku. Soonhye ?”

“Emm… Ya aku mau menjadi kekasihmu.”

Singkat sekali tapi aku senang mimpiku menjadi kenyataan, ketika keluar kelas ia menggandeng tanganku.

Busan Art High School. Soonhye POV.

Apa yang kulihat kemarin pasti mimpi. Jieun bergelayut mesra di bahu Junho. TIDAK MUNGKIN. Junho tidak mungkin menyukai yeoja itu, tunggu mengapa aku begitu yakin ? Yeoja itu cantik, sangat pintar bernyanyi, prestasi akademiknya pun tidak bisa diragukan lagi. Aku bodoh. Hatiku terasa sakit. Ini sudah seminggu sejak aku menjadi kekasihnya Wooyoung, tapi kami tidak seperti sepasang kekasih. Aku tidak mengerti. Ia tidak pernah menjemputku, seperti layaknya sepasang sepasang kekasih lain. Ia hanya menyapa bila bertemu itu saja yang berubah. Tapi anehnya didepan Junho ia sangat berbeda, tiba tiba saja ia memelukku atau menggandeng tanganku.

Pasti ia cemburu karena Junho disukai mantan kekasihnya. Tapi mengapa denganku ? Tidak dengan orang lain yang kata Wooyoung dulu, Junho sampai rela masuk kelas “sisa” ini hanya untuk bertemu dengan yeoja itu. Aneh.

BRUUUK. Bunyi apa itu ?

“YA~ ada orang bertengkar di luar sepertinya itu Junho dan Wooyoung.” Ucap chorong yang membuatku terkejut.

Tanpa habis pikir, aku berlari ke luar kelas. Junho pipinya membiru, sedangkan Wooyoung matanya berlingkaran hitam.

“Beraninya kau …” Ucap Junho lalu memukul Wooyoung lagi lebih keras, tepat di perutnya.

“STOP.” Aku berteriak, dan berusaha menahan Junho yang akan memukul lebih banyak lagi.

“SOONHYE KU KATAKAN PADAMU BAHWA IA TIDAK INGIN SAMA SEKALI MENJADI KEKASIHMU. IA INGIN BALAS DENDAM.” Teriak Junho.

Aku berpikir sejenak lalu menarik Junho lagi pergi dari tempat itu, ia berusaha melawan tapi akhirnya ia diam saja. Aku dan Junho sedang berada di belakang sekolah, aku tidak membawa apa apa untuk mengobati luka Junho. Aku ingat, tadi aku membeli minuman dingin, aku memberikannya agar mengompres pipinya yang biru itu.

“Maksudmu apa tadi Junho ?”

Ia diam sejenak tapi tiba tiba mengeluarkan sesuatu dari sakunya, aku agak tidak mengerti apa maksudnya. Ia mengeluarkan sebuah pita pink mencolok, dan ada tulisan SOONHYE ? Sepertinya aku mengenal pita itu. Jangan jangan ia adalah namja yang berkata padaku bahwa manusia memiliki bakat. Aku tertawa, mana mungkin Junho ini.
“Kau tidak percaya ?”

Tiba tiba saja ia mengucapkan apa saja yang ia katakana dulu, aku sangat mengingat anak itu. Jadi  yeoja yang kata Wooyoung sangat disukai Junho itu yang sampai megikutinya masuk ke kelas 1-05 adalah aku ? Aku terdiam lama sekali.

“Benar. Aku mencintaimu. Saranghaeyo Park Soon Hye. Kau adalah cinta pertamaku.”

Aku mengerti sekarang, Wooyoung tahu kalau Junho menyukai aku. Wooyoung mendekatiku lalu menjadi kekasihku. Aku tahu dia bodoh. Wooyoung seperti anak kecil, pemikirannya kurang rasional.

“Soonhye-ssi aku minta maaf telah memanfaatkanmu.” Ucap Wooyoung yang datng tiba tiba.

Author POV

Sejak kejadian dimana Wooyoung hanya memanfaatkan Soonhye. Soonhye tidak menangis meskipun terasa sakit. Ia berusaha kuat. Ia tahu sebenarnya ia hanya kagum  pada segala kelebihan Wooyoung, tapi ia tidak mencintainya. Wooyoung dan Jieun menjadi sepasang kekasih lagi. Ternyata Jieun masih sangat mencintai wooyoung karena sesuatu hal ia terpaksa bilang ia menyukai Junho.

Soonhye merasa ia telah jatuh cinta kepada Lee Junho, namja yang dari awal ada disisinya. Hari ini adalah acara perpisahan kelas 1-05 mereka akan naik ke kelas 2 dan mereka telah menemukan bakat bakat mereka sesungguhnya termasuk Soonhye.

“Soonhye unnie, kau cantik sekali.” Teriak Gyuri ketika ia melihat Soonhye keluar dari kamar menggunakan dress hitam berpita karena malam ini adalah malam yang istimewa. Soonhye membubuhkan sedikit make up dan membuat rambutnya tampak lebih bagus.

“Junho oppa sedang menunggu diluar.” Ucap Gyuri lagi.

Soonhye tersenyum lagi, mereka berdua kini tinggal bersama adik umma yang belum menikah. Junho menatap kagum ketika Soonhye keluar dari pintu rumahnya, ia terkejut. Wajah Soonhye agak memerah karena tatapn Junho.

“Apa aku terlihat aneh ?”

“Aniyo, kau cantik. Cantik sekali. Neomu Yeppeoda.”

Tiba tiba Junho berbalik ke mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana, bunga mawar pink. Soonhye tersenyum ia merasa senang.

“Soonhye-ah maukah kau menjadi kekasihku ?”

Soonhye mengangguk malu malu.

The END

Comment ya setelah membaca FF terbaru saya ini. TUUH KAAN saya comeback beneran setelah hiatus.