Perfect Life

Title     : Perfect Life

Author: PSHtaegangunite

Rated   : nggak tahu ._.

Cast      : Park Soonhye, Lee Junho (2PM), Jang Wooyoung (2PM), IU, Park Chorong (A-PINK), Park Gyuri (KARA), Park Kahi (After School), Jung Eun Ji (A-PINK)

Jangan pernah mengharapkan kehidupan yang sempurna

Kau tidak bisa menjadi sempurna karena tidak ada manusia yang sempurna

Jangan mengharapkan kesempurnaan pada dirimu yang bahkan akan menghancurkanmu

Suara kagum saudara saudara Soonhye terdengar jelas disetiap sudut ruangan. Mereka berdecak kagum melihat semua prestasi yang diperoleh keluarga park apalagi GyuRi, yeodongsaeng Soonhye. Mulut mulut saudara saudara Soonhye berkali kali mengucapkan astaga, aigo, dsb. Semuanya menunjukkan kekaguman yang ditujukan pada Gyuri, anak emas Park Kahi. GyuRi hanya tersenyum bangga, sambil sesekali melirik Soonhye unnienya. Acara arisan keluarga yang setiap tahun dilaksanakan itu kali ini bertepatan di rumah Soonhye, menurut Kahi, umma Soonhye ia bisa menyombongkan anak emasnya gyuri yang sudah memenangkan kompetisi kompetisi balet dimana mana.

“Ini semua piala Park GyuRi dengan berbagai kompetisi balet dan ia selalu menjadi pemenangnya.” Ucap umma bangga.

Sesekali ia memandang GyuRi dengan tatapan betapa bangga aku memiliki anak sepertimu. SoonHye hanya diam menunduk, ia tidak suka suasana ini. Meskipun berkali kali ia berlatih balet, bahkan ia berlatih balet dari kecil tapi semua orang termasuk gurunya mengatakan ia sama sekali tidak memiliki bakat yang diwariskan orang tuanya. Ia ingat benar betapa sedih wajah orang tuanya, ketika mengetauhi betapa tidak berbakatnya anak mereka ini. Padahal ia adalah anak pasangan penari balet paling terkenal Park Kahi dan Park Yoochun.

“Soonhye-ya, tolong jangan duduk disana ! Kami harus memindahkan kursi ini untuk GyuRi.” Ucap salah satu orang kepercayaan umma, atau lebih menjadi bodyguard GyuRi.

Soonhye POV

 

Aku tak habis pikir, aku juga anak umma. Mengapa bodyguard ini bertingkah seolah aku bukan atasannya. Tapi percuma aku memarahinya, ia bahkan tak mendengarkanku. Ia sudah seperti umma yang hanya mendengarkan Park GyuRi. Umma dan dunianya, toh aku tak peduli.

“Lalu Soonhye, kau tidak pernah memenangkan sesuatu dalam hal balet ?” Tanya seorang saudara Soonhye.

Menusuk sekali. Tapi biarkan bakatku tidak pada balet. Umma bertingkah aneh, sesekali ia terbatuk dan mengalihkan pembicaraan. Ya, itulah cara umma menghilangkan pembicaraan tentang anaknya yang bernama SoonHye ini.

Busan Art school. Author POV.

 

Seorang namja tersenyum menatap yeoja berkulit putih, pendek, tapi cantik. Lee Jieun. Namja itu tersenyum melihat yeoja itu bercerita panjang lebar, berkeluh kesah tentang sesuatu. Sesekali yeoja itu cemberut, meskipun cemberut yeoja itu masih sangat cantik. Jang Wooyoung dan Jieun melanjutkan pembicaraan mereka sambil duduk. Mereka terlihat sangat akrab bahkan seperti dunia hanya berputar disekitarnya tanpa mereka peduli apa yang terjadi disekitarnya. Tanpa sadar seorang yeoja tinggi berkulit tidak coklat, dan tidak putih. Tidak memiliki bakat memandang keduanya iri. Wooyoung adalah orang yang sangat disukai yeoja itu, Soonhye.

Soonhye melihat pasangan yang sangat serasi itu dari jauh, muncul perasaan iri pada Jieun. Jieun memiliki segalanya, wajah yang cantik, bakat yang memukau yaitu menyanyi, kekasih yang tampan. Perfect life. Sesuatu yang sangat diinginkan Soonhye sejak lama, ia sudah lama menyukai Wooyoung bahkan sebelum memiliki seorang kekasih. Tapi Wooyoung melihat Soonhye saja tidak, kebiasaan orang orang di sekitar Soonhye adalah tidak bisa melihat Soonhye yang mendadak kasat mata.

SoonHye POV

 

Aku tidak hidup menjadi pemeran utama. Tidak dirumah, tidak di sekolah. Dilihat orang saja tidak. Aku masuk sekolah ini karena test, itulah satu satunya kelebihanku yaitu mengerti banyak tentang musik. Hari ini adalah test penempatan bakat, semua orang menunjukkan bakatnya. Tapi apa yang harus kulakukan aku tak mengerti sama sekali bakatku !

“Annyeong haseyo, ah kau adalah saudara Park Gyuri bukan ? Aku adalah fans beratnya bisakah kau memintakan padanya tanda tangannya dan fotonya ?” Ucap seorang namja tampan, tapi maaf dia fans Gyuri aku tidak tertarik dengan fans Gyuri.

“Ah annyeong haseyo. Aku Lee Junho.”

Aku jadi berpikir berarti aku tidak terlalu invisible sampai sampai namja sipit ini bisa melihatku bahkan sampai menyapaku, tapi tetap saja karena Gyuri. Aku memegang kertas dan bolpoin yang ia berikan padaku agar Gyuri menanda tanganinya. Aku berdehem, grogi. Bukan berarti aku menyukai namja bermata sipit itu. Aku memang seperti ini terlahir dengan grogi yang berlebihan bila dengan seorang namja, siapapun itu. Aku sudah berusaha untuk tidak grogi.

“Emm..ma..af.. Junho-ssi, kau minta sendiri pada GyuRi.”

Setelah berbicara seperti itu aku berusaha mengatur nafas yang tidak beraturan hanya karena berbicara dengan namja. Aissh. Namja itu terlihat kecewa, Tiba tiba smirk muncul di wajahnya.

“Ehm…Aku adalah Lee Junho, sepupu Jang Wooyoung. Dan aku tahu kau memperhatikan Wooyoung dan Jieun sedari tadi.”

Gleek. Rasanya seperti menelan seekor katak. Selama ini aku tidak pernah ketahuan. Apa maksudnya ini ? Baru saja kenal sudah mendapatkan masalah. Aku tak bisa membiarkan Junho mengatakan sesuatu pada Wooyoung. Aku tahu mau Lee Junho, yaitu tanda tangan Gyuri. Ok, baiklah. Dasar namja jelek.

“Emm, baiklah Junho-ssi.”

Aku segera mengambil kertas dan bolpoin yang dibawa Junho, dan beranjak pergi dari pandangan Junho. Namja aneh yang jelek, tidak seperti Wooyoung yang berkharisma, bisa dance dengan baik heran bagaimana bisa Junho adalah saudaranya. Aku tahu banyak tentang Wooyoung karena sebelumnya kami satu sekolah.

“Bagaimana kau bisa masuk sekolah ini ?”

Aku menoleh pada Junho, apa maksudnya ini ? Nada bicaranya juga sangat dingin. Mengejek atau bertanya. Bahkan tidak ada bedanya. Sifat namja ini tidak bisa ditebak, kadang aku merasa namja ini jahil, tapi dingin juga. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan namja ini.

“Tes”

Author POV

“Untuk semua siswa siswi baru segera ke ruang tes penempatan bakat.”

suara di speaker mengagetkan kedua orang yang sedang berjalan beriringan itu. Junho tersenyum pada Soonhye.

“Semoga beruntung.”

Soonhye terkejut dengan tingkah Junho, baru kenal tapi sok akrab. Tapi cukup membingungkan bagi Soonhye yang jarang berbicara dengan orang lain. Junho berjalan menjauh dari Soonhye, yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Soonhye berjalan ke ruangan yang ditentukan. Ia bernomer urut 3, jadi ia harus benar benar cepat atau dikeluarkan dari penempatan bakat dan dibuang ke sekolah lain.

“Untuk peserta nomer 2 segera masuk ruangan atau didiskualifikasi. ” Suara wanita di speaker itu dengan keras. Soonhye telah berada di depan ruangan, tapi ini bukan gilirannya. Namja bernama Wooyoung berlari lari dan segera masuk ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan senyuman bahagia, matanya mencari cari sosok kekasihnya Jieun.

Soonhye telah masuk ke dalam ruangan yang menegangkan itu 3 orang juri menatap tajam Soonhye. Salah satunya berbisik pelan kepada yang lain. Mereka tahu Soonhye adalah putri pertama Keluarga Kahi yang sering disebut malapateka, karena Soonhye tidak memiliki bakat apa apa. Soonhye berdiri kaku.

“Apa yang akan kau tunjukkan ?”

“Balet ?”

juri juri itu terkekeh ketika seseorang diantara mereka berkata balet.

“Bagaimana bisa kau masuk sekolah Yang penuh bakat ini ? MENYUAPKAH ?”

“Maaf saya belum mengetauhi bakat saya, tapi saya lulus tes tentang musik.”

Juri diruangan itu membuat takut Soonhye, akhirnya 3 juri itu menyuruh Soonhye pergi dan diputuskan Soonhye masuk kelas paling akhir. Kelas-tanpa-bakat. Soonhye keluar dari ruangan tersebut dengan wajah menunduk. Ia malu, sedih, hampir saja wajahnya ia basahi dengan air mata tapi tiba tiba seorang yeoja tersenyum padanya. Ia tahu yeoja itu tersenyum padanya meskipun ia sedang menunduk karena jujur yeoja itu pendek.

“Apakah yang dilakukan mereka padamu ?”

“Apa mereka menyakitimu nomer 3 ?” Tanya yeoja cantik dengan senyumnya yang khas itu sambil melihat nomer audisi untuk penempatan bakat.

Soonhye terus menunduk menurutnya yeoja itu sok kenal dengannya sama seperti Lee Junho. Ia berjalan menjauhi yeoja itu, tetapi yeoja itu mengikuti Soonhye. Nomer yang diletakkan di dada yeoja itu terlihat nomer 1, berarti ia telah lebih dulu diaudisi.

“Annyeong haseyo, aku ingin berkenalan denganmu namaku Jung EunJi. Kau lulus tes dengan nilai tertinggi itukan ?”

“Baiklah kalau kau tidak ingin berkenalan, aku pergi saja Soonhye-ssi.”

Soonhye sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tak peduli dengan yeoja cantik itu. Ia tidak ingin memiliki teman terlalu sempurna seperti itu. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah terkenal di Busan itu dengan bosan, ia memang hebat tentang musik tapi ia tidak bisa main musik, tidak bisa bernyanyi, tidak bisa menari. Ia tiba dikelas dimana atasnya tertulis dengan jelas.

1-05

Kelas yang mengenaskan, terbuang, tempat anak anak tidak berbakat tapi entahlah tes pertama bisa lolos.

Soonhye POV

Aku tidak suka menyebutnya kelas anak terbuang meskipun kenyataannya begitu. Menurutku kelas ini adalah untuk anak anak yang memiliki bakat terpendam yang dirinya sendiri saja tidak tahu bakatnya. Sepertinya aku anak pertama yang masuk kelas ini, bagaimana bila nanti tidak ada yang masuk kelas ini hanya aku saja ? Sebenarnya kelas ini bagus bila dibersihkan. Tak apalah, mungkin disini nanti aku akan menemukan bakatku. Aku duduk di salah satu bangku paling depan di dekat meja guru. Apa sebaiknya aku duduk dibelakang saja ya ? Emm sebaiknya aku duduk depan saja. Suara sepatu berjalan di koridor, aku mendengarnya. Ia pasti akan masuk kelas ini karena tempat ini memang agak diasingkan jadi satu satunya kelas di sekitar sini ya hanya kelas ini. Siapa murid kedua kelas ini ?

“AISHHH… Kau lagi.”

Aku hanya diam ketika menatap seorang namja bernama Lee Junho yang tadi pagi ia temui. Lee Junho memakai headphone yang membuatnya seolah orang keren saja. Dia aneh, gayanya sok keren tapi sebenarnya tidak sama sekali. Bagaimana bisa orang keren masuk kelas seperti ini ? Berarti aku baru saja mengategorikan diriku sebagai orang tidak keren. Ah sudahlah. Namja itu berjalan melewati bangku-ku dan duduk di belakang bangku-ku. Suara kaki lagi, seperti hendak menuju kesini.

“AH, annyeong haseyo. Aku Park Chorong, ehm. Boleh aku duduk disebelahmu ?”

“Boleh.” Ucapku seadanya, dia duduk di sebelahku. Menurut pengamatanku (?) ia cantik sekali, mungkin ia juga tidak mengerti bakat apa yang dimilikinya.

“Namamu siapa ?”

“Aku Park Soonhye. Senang berkenalan denganmu.”

“Soonnn…hyee ? Kakak perempuan Gyuri ?”

Yeoja itu tercengang, tentu saja. Pasti ia berpikir kakak Gyuri ini tidak memiliki bakat ? Aku memiliki bakat tapi aku tak tahu bakatku apa. Terkadang aku ingin menjadi Jieun ataupun Eunji atau Gyuri, yang sangat berbakat. What a perfect life they have.

“Wow, aku beruntung bertemu denganmu. Kau nomer satu di sekolah ini dengan tes itu.”

“AKU ? Kau tidak berpikir aku bodoh ? Tidak memiliki bakat seperti orang tuaku atau adikku ?”

“Aniyo. Aku tidak berpikir seperti itu.”

Author POV

Hari pertama di Busan Art High School membuat Soonhye lelah karena ia, Junho, dan Chorong harus menunggu murid “sisa” yang datang sampai 3 jam. Isi kelas itu menjadi 10 anak. Hanya 10 anak itu sudah termasuk Junho, Chorong, dan Soonhye. Baru setelah audisi benar benar selesai, seorang guru yang merupakan wali kelas 1-05 masuk kelas dan mengumumkan tentang peraturan sekolah, dsb, dsb.

Soonhye hanya bingung di tempat tidurnya, ia tidak tidur. Ia memikirkan Wooyoung masuk ke kelas mana. Tiba tiba HP Soonhye bergetar. 1 new message.

Jangan lupakan tugasmu, Soonhye.

From : +621345****

TUGAS ? Ini siapa ?

Sent

Lee Junho saudara sepupu JANG WOOYOUNG.

From : +621345****

Kau bohong kan ? Gotjimal ~ Aku tidak percaya kau sepupunya.

Sent

AH ~ Baiklah kau tidak percaya padaku kan ?

From : +621345****

 

+621345**** calling

 

“Yoboseyo, JUNHO-SSI aku tidak percaya padamu.”

“Yoboseyo. JUNHO-YA ! Mengapa kau memberikan ini padaku ?”

Suara namja berteriak di seberang telepon. Ia sedang berteriak memanggil Junho, wajah Soonhye mengeluarkan ekspresi penuh dengan kecemasan. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa suara ini adalah suara Wooyoung. Tangannya gemetaran, lututnya lemas. Ia bingung harus berkata apa.

“Jang Wooyoung ?”

“Ne, aku wooyoung. Maaf aku bukan Junho. Bagaimana kau tahu aku Wooyoung ?”

Soonhye berdiri kaku didepan cermin, ia melihat refleksinya sendiri sedang berdiri diam ketakutan. Ia tidak menyangka ia bisa bertanya Jang Wooyoung ? Diseberang telepon. Junho telah merebut ponselnya dari tangan Wooyoung, lalu ia segera memutuskan panggilan dengan Soonhye.

Dengan segera tanpa menunggu perintah lagi dari Junho, ia berlari ke depan kamar Gyuri. Biasanya adiknya itu sedang ada dikamarnya sepulang sekolah. Ia mengetuk pintu kamar Gyuri.

“Masuk.”

Kamar Gyuri yang penuh peralatan balet membuat Soonhye terkagum, meskipun ia sering ke kamar ini.

“Temanku meminta tanda tangan dan fotomu. Aku meninggalkan kertasnya disini.”

Ia segera pergi karena Gyuri terlihat sedang sibuk berdiri diatas ibu jari kakinya. Gyuri memang sangat anggun. Tiba tiba saja Gyuri berhenti dari aktivitasnya, ketika Soonhye sedang berjalan keluar dari kamar adiknya itu.

“Tunggu unnie. Apa kau berpikir aku sempurna ?”

Soonhye terkejut dengan pertanyaan Gyuri. Ia berbalik lalu melihat Gyuri duduk di tepi tempat tidurnya, wajah Gyuri sarat akan lelah yang luar biasa. Entah mengapa Soonhye merasa Gyuri sedang ingin bersamanya.

“Tentu saja, kau memiliki bakat yang sangat bagus. Cantik, anggun, dsb.”

Tiba tiba Gyuri tersenyum, wajahnya kembali ceria. Soonhye masih berdiri di depan pintu. Soonhye dengan entengnya berbicara begitu.

“Kalau begitu terima kasih unnie.”

Busan Art High School

 

“Bagaimana ? Kau berhasil mendapatkannya kan ?”

Segera saja Soonhye mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Foto Gyuri dan tanda tangannya. Junho tersenyum devil. Tiba tiba Jieun dan Wooyoung berhenti didepan mereka, Junho tersenyum aneh.

“Junho-ya. Apa ia kekasihmu ? Yang sampai sampai kau berani masuk kelas buangan itu” Ucap Wooyoung yang membuat Soonhye terkejut setengah mati, matanya terbelalak. Junho mendelik(?) terkejut.

“HAH ? ANIYO.” Jawab Junho keras, Jieun hanya terkikik di sebelah Wooyoung.

Soonhye merasa aneh, apa maksud wooyoung ? Junho masuk ke kelas itu dengan sengaja agar bertemu seseorang ? Apa maksudnya ?

At Class 1-05, Soonhye POV.

 

“Sebenarnya kalian memiliki bakat, itu terbukti kalian bisa berhasil masuk dengan tes.” Ucap Kim songsaengnim yang sedari tadi berceramah tentang bakat. Aku hanya diam memikirkan yang dikatakan Wooyoung tadi pagi.

“Soonhye, saya ingin mendengarmu bernyanyi.”

Aku terkejut aku segera berdiri dengan tergagap mana aku bisa menyanyi. Ia memberikan music sheet padaku. Judul lagunya There You’ll Be – Faith Hill.  Dan kebetulan saja aku tahu lagunya dengan baik. Tapi ini termasuk kategori susah, karena banyak high note. Kim songsaengnim menyuruhku menyanyikan lagu itu dari chorus sampai high note. Astaga, tes yang lumayan susah. Sebenarnya aku sama sekali tidak pernah bernyanyi, karena aku piker suaraku jelek.

Well you showed me how it feels,
To feel the sky within my reach,
And I always will remember all,
The strength you gave to me,
Your love made me make it through,
Ohh I owe so much to you,
You were right there for me.

Chorus:

In my dreams I’ll always see you soar above the sky,
In my heart there’ll always be a place for you,
For all my life,
I’ll keep a part of you with me,
And everywhere I am there you’ll be,

Cause I always saw you in my light, my strength,
And I wanna thank you now for all the ways,
You were right there for me, you were right there for me
Always

In my dreams I’ll always see you soar above the sky,
In my heart there’ll always be a place for you,
For all my life,
I’ll keep a part of you with me,
And everywhere I am there you’ll be

And everywhere I am there you’ll be

Aku sudah mencoba dengan baik, entah seperti apa jadinya suaraku itu. Aku senang karena suaraku tidak crack begitu saja. Ketika menyanyi aku lebih banyak memejamkan mata, tapi ketika sesekali aku membuka mata. Mengapa wajah teman temanku berubah menjadi shock dan kagum seperti itu ? Aku sangat percaya diri.

“Mengapa kau tidak bernyanyi saat penempatan bakat ? Suaramu sangat merdu penuh dengan kejutan. Suaramu kuat, pernafasanmu teratur. Kau seharusnya tidak ada disini.”

Mataku terbelalak karena pujian pujian Kim Songsaengnim, jadi apakah aku menemukan bakatku ? Akhirnya, terima kasih Tuhan. Ini begitu menyenangkan, bagaimana ketika Umma mendengar suaraku ? Astaga aku ingin cepat pulang. Wajah Junho terlihat kagum, bingung, seperti campur aduk. Aku tersenyum padanya, lalu duduk kembali. Tiba tiba seorang guru lain masuk ke kelas dan berbicara serius dengan Kim Songsaengnim.

“Park Soonhye. Kau diizinkan pulang karena Park Kahi sakit keras.”

Author POV

Perasaan Soonhye campur aduk, baru saja ia akan mengatakan bakat yang sesungguhnya pada ummanya. Tapi malah seperti ini. Ia tahu ummanya tidak pernah sesayang seperti Gyuri dengan Soonhye. Meskipun begitu Soonhye berkali kali menteskan air mata.

“Umma, ternyata aku bisa menyanyi dengan baik. Kim songsaengnim memujiku.Apa kau ingin mendengarkannya ?”

Soonhye menggenggam tangan kanan umma dengan erat, wajah Soonhye berantakan. Gyuri berada di sisi lain tempat tidur ummanya. Gyuri terlihat sangat sedih, wajahnya lelah, pucat dan semuanya campur aduk. Mereka tak ingin kehilangan ummanya setelah appanya meninggal 7 tahun lalu.

Kerutan kerutan di wajah Park Kahi semakin terlihat, kedua mata Kahi terbuka. Soonhye terkejut lalu segera memeluk Kahi, sedangkan Gyuri menangis bahagia karena 5 jam terakhir Kahi tidak membuka matanya.

“Soonhye, aku ingin kau bernyanyi untukku.”

Suddenly, i was frightened by the ringing phone
my mom’s worried voice asked if i’ve eaten
these words annoyed me but today it’s different
The forgotten promises are remembered

I will be a person with pretty heart
And become a person who is selfless
I’ll keep the love of my mother’s wishes
I think of mother who used to share my dreams and brush my hair

Though I’ve made hurtful wrong choices
You silently watched over me from behind
But now I think more than an innocent child
The meaning of mom’s silent prayers

(dear. Mom – SNSD English translation)

Tangan Soonhye masih memegang erat tangan ummanya, diakhir lagu. Tangan ummanya melemah. Tapi ia mengatakan dengan mata yang sudah tertutup.

“Aku mencintaimu meskipun kau tidak memiliki bakat.”

Soonhye menangis, ia menutup wajahnya. Ia tahu Ummanya telah meninggalkannya dan Gyuri. Gyuri terlihat sangat sedih, ia tersiksa. Ia berkali kali berkata.

“Umma, aku melakukan ini semua untukmu. Jangan seperti ini, buka matamu.”

Next day.

Hari ini Soonhye tidak masuk sekolah, ia menemani gyuri yang sangat Syok. Seringkali Gyuri menatap foto Umma lalu berkata dengan nada yang aneh.

“Sempurna. Itukan yang umma mau aku sudah sempurna. Tapi kemana kau pergi ?”

Soonhye sering menangis meskipun ia masih bisa terlihat tegar didepan orang orang banyak yang sedang datang untuk menyampaikan turut berduka cita atas kematian ummanya. Tiba tiba Eunji, Wooyoung, Junho, dan Chorong datang. Chorong menatap Soonhye perhatian ia mengerti Soonhye sedang sangat tertekan. Soonhye berusaha tersenyum ketika Wooyoung datang, ia berpura pura kuat. Satu hal yang diherankan Soonhye, Wooyoung tidak datang bersama Jieun. Ketika Eunji, Wooyoung, dan Chorong telah pulang. Junho masih saja menemani Soonhye, Soonhye menatap halaman rumahnya dengan tatapan kosong dan tertekan. Junho memandangnya dengan perhatian.

 

 

FLASHBACK

Junho yang masih berumur 7 tahun berjalan keluar rumahnya. Ia akan berangkat ke sekolah, ia berjalan karena memang jarak rumah dan sekolahnya tidak jauh. Tiba tiba ia melihat gadis seumurannya rambutnya diikat dan pita berwarna Pink mecolok bertuliskan Soonhye menangis di depan gedung besar sekolah balet. Gadis itu duduk di tanah dengan baju ketat untuk berlatih balet, gadis itu menangis semakin keras apalagi ketika melihat ke salah satu ruangan, ruangan itu adalah dimana Guru baletnya dan orang tuanya berbicara. Sesekali Gadis itu mencuri dengar pembicaraan itu,

“Maaf, anak kalian tidak berbakat sama sekali.”

“Tidak mungkin, aku tidak mungkin memiliki anak tidak berbakat seperti itu.”

“Anak itu adalah anak ballerina terkenal. Bagaimana bisa ia tidak berbakat menari balet ?”

“Mungkin ia bukan anak kita.”

Junho juga mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung di ruangan tersebut karenaia telah mendekai posisi gadis itu.

“Tidak mungkin manusia tidak memiliki bakat.”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang sembap karena ia terus menangis. Junho tersenyum padanya sambil mengulurkan tangannya agar gadis itu berdiri. Gadis itu menerima uluran tangan Junho, ia berdiri dan berhenti menangis.

“Apa benar aku memiliki bakat ?”

“Tentu saja, tapi kau akan menemukannya suatu saat nanti. “

“Soonhye, kita harus pulang.” Teriak umma Soonhye yang sudah menunggu di dalam mobil. Soonhye berlari meninggalkan Junho, tapi sejenak ia menoleh lalu tersenyum dan berbisik terima kasih.

Junho tersenyum sendiri setelah Gadis itu pergi. Ia geli pada dirinya sendiri yang mendadak bijaksana itu.Tiba tiba ia melihat pita pink kecil bertuliskan Soonhye, ia mengambilnya dan menyimpan benda itu dalam sakunya.

Flashback end.

Busan Art High School.

Pagi pagi sekali Soonhye sudah duduk di tempat biasa ia duduk, ia tidak masuk sekolah selama 15 hari karena ia harus menjaga Gyuri yang sekarang sering pingsan. Kata dokter Gyuri terkena Anemia yang parah karena disebabkan kelelahan yang terus menerus, Gyuri bilang ia terlalu berambisi menjadi penari balet yang sempurna. Ia berlatih dari pagi hingga tengah malam. Ia sekolah di sekolah balet itu hanya sampai pukul 3 sore. Tapi ia melanjutkan latihannya dirumah. Sekarang Gyuri menjadi lebh dewasa, dan tidak syok lagi dengan kematian ummanya. Gyuri bercerita ia ingin dilihat umma sebagai perfect ballerina.

Tiba tiba saja Wooyoung datang dan duduk di sebelah Soonhye, untung saja saat ini kelas sedang sepi. Soonhye otomatis menjauhkan duduknya dari Wooyoung, jantungnya selalu berdegup kencang bila bersama Wooyoung.

“Soonhye, apa kau baik baik saja ?”

“Em, ne. Gwenchanayo.”

Soonhye tidak tahu Junho sedang memperhatikan mereka dari luar kelas. Ia menatap sedih, tapi Junho tahu Soonhye bahagia bersama Wooyoung.

“Kau tahu Jieun memutuskan hubungan dengan Wooyoung berhari hari yang lalu di hadapan banyak orang.” Kata Chorong ketika Wooyoung telah pergi. Mata Soonhye membelalak, bagaimana bisa mereka kan pasangan paling serasi ?

“HAH ? Apa alasan Jieun memutuskan Wooyoung ? Tidak masuk akal.”

“Jieun menyukai namja lain yaitu Lee Junho.”

Soonhye POV

HAH ? Berita hari ini benar benar menohok perutku dengan keras. Kalau menurutku Junho itu tampan. Tunggu mengapa aku bisa berpikiran begitu ? Sejak kapan aku menganggap Junho tampan ? ARGH aku semakin aneh sejak aku tidak masuk sekolah.

“Apa disaat Jieun bilang ia menyukai Junho, apa Junho ada disana ?” Tanyaku penasaran. Mungkin kalau Junho tahu tingkat kepercayaan dirinya semakin meningkat, bahkan mungkin ia semakin sombong saja.

Chorong menggeleng. Junho datang tapi ia tidak lagi duduk dibelakangku. Ada apa dengan namja itu ? Biasanya ia suka sekali mengusiliku. Aneh.

“Junho-ya. Mengapa kau duduk disitu ?” Tanyaku kepadanya yang sedang melihat ke luar kelas. Aku memang sudah akrab dengannya sejak insiden minta tanda tangan dan foto Gyuri itu. Junho berdiri dan berjalan ke bangkuku. Ia sekarang berada di depanku.

“Selamat Soonhye. Sebentar lagi mimpimu menjadi kenyataan, Wooyoung bilang kepadaku akan berbicara serius denganmu nanti sepulang sekolah.” Ucapnya lalu ia tersenyum, ia tampan kalau tersenyum seperti itu. Tunggu dulu, mengapa jantungku berdetak cepat. Dan tadi sorot matanya seolah sedih menyampaikan berita itu.

After bell school rang. Soonhye POV.

Benar kata Junho, Wooyoung ke kelasku dan ingin berbicara serius denganku. Jantungku berdegup kencang tapi tidak seperti biasanya. Biasanya bila aku dekat Wooyoung terasa lebih keras detakannya.

“Kau mau menjadi kekasihku. Soonhye ?”

“Emm… Ya aku mau menjadi kekasihmu.”

Singkat sekali tapi aku senang mimpiku menjadi kenyataan, ketika keluar kelas ia menggandeng tanganku.

Busan Art High School. Soonhye POV.

Apa yang kulihat kemarin pasti mimpi. Jieun bergelayut mesra di bahu Junho. TIDAK MUNGKIN. Junho tidak mungkin menyukai yeoja itu, tunggu mengapa aku begitu yakin ? Yeoja itu cantik, sangat pintar bernyanyi, prestasi akademiknya pun tidak bisa diragukan lagi. Aku bodoh. Hatiku terasa sakit. Ini sudah seminggu sejak aku menjadi kekasihnya Wooyoung, tapi kami tidak seperti sepasang kekasih. Aku tidak mengerti. Ia tidak pernah menjemputku, seperti layaknya sepasang sepasang kekasih lain. Ia hanya menyapa bila bertemu itu saja yang berubah. Tapi anehnya didepan Junho ia sangat berbeda, tiba tiba saja ia memelukku atau menggandeng tanganku.

Pasti ia cemburu karena Junho disukai mantan kekasihnya. Tapi mengapa denganku ? Tidak dengan orang lain yang kata Wooyoung dulu, Junho sampai rela masuk kelas “sisa” ini hanya untuk bertemu dengan yeoja itu. Aneh.

BRUUUK. Bunyi apa itu ?

“YA~ ada orang bertengkar di luar sepertinya itu Junho dan Wooyoung.” Ucap chorong yang membuatku terkejut.

Tanpa habis pikir, aku berlari ke luar kelas. Junho pipinya membiru, sedangkan Wooyoung matanya berlingkaran hitam.

“Beraninya kau …” Ucap Junho lalu memukul Wooyoung lagi lebih keras, tepat di perutnya.

“STOP.” Aku berteriak, dan berusaha menahan Junho yang akan memukul lebih banyak lagi.

“SOONHYE KU KATAKAN PADAMU BAHWA IA TIDAK INGIN SAMA SEKALI MENJADI KEKASIHMU. IA INGIN BALAS DENDAM.” Teriak Junho.

Aku berpikir sejenak lalu menarik Junho lagi pergi dari tempat itu, ia berusaha melawan tapi akhirnya ia diam saja. Aku dan Junho sedang berada di belakang sekolah, aku tidak membawa apa apa untuk mengobati luka Junho. Aku ingat, tadi aku membeli minuman dingin, aku memberikannya agar mengompres pipinya yang biru itu.

“Maksudmu apa tadi Junho ?”

Ia diam sejenak tapi tiba tiba mengeluarkan sesuatu dari sakunya, aku agak tidak mengerti apa maksudnya. Ia mengeluarkan sebuah pita pink mencolok, dan ada tulisan SOONHYE ? Sepertinya aku mengenal pita itu. Jangan jangan ia adalah namja yang berkata padaku bahwa manusia memiliki bakat. Aku tertawa, mana mungkin Junho ini.
“Kau tidak percaya ?”

Tiba tiba saja ia mengucapkan apa saja yang ia katakana dulu, aku sangat mengingat anak itu. Jadi  yeoja yang kata Wooyoung sangat disukai Junho itu yang sampai megikutinya masuk ke kelas 1-05 adalah aku ? Aku terdiam lama sekali.

“Benar. Aku mencintaimu. Saranghaeyo Park Soon Hye. Kau adalah cinta pertamaku.”

Aku mengerti sekarang, Wooyoung tahu kalau Junho menyukai aku. Wooyoung mendekatiku lalu menjadi kekasihku. Aku tahu dia bodoh. Wooyoung seperti anak kecil, pemikirannya kurang rasional.

“Soonhye-ssi aku minta maaf telah memanfaatkanmu.” Ucap Wooyoung yang datng tiba tiba.

Author POV

Sejak kejadian dimana Wooyoung hanya memanfaatkan Soonhye. Soonhye tidak menangis meskipun terasa sakit. Ia berusaha kuat. Ia tahu sebenarnya ia hanya kagum  pada segala kelebihan Wooyoung, tapi ia tidak mencintainya. Wooyoung dan Jieun menjadi sepasang kekasih lagi. Ternyata Jieun masih sangat mencintai wooyoung karena sesuatu hal ia terpaksa bilang ia menyukai Junho.

Soonhye merasa ia telah jatuh cinta kepada Lee Junho, namja yang dari awal ada disisinya. Hari ini adalah acara perpisahan kelas 1-05 mereka akan naik ke kelas 2 dan mereka telah menemukan bakat bakat mereka sesungguhnya termasuk Soonhye.

“Soonhye unnie, kau cantik sekali.” Teriak Gyuri ketika ia melihat Soonhye keluar dari kamar menggunakan dress hitam berpita karena malam ini adalah malam yang istimewa. Soonhye membubuhkan sedikit make up dan membuat rambutnya tampak lebih bagus.

“Junho oppa sedang menunggu diluar.” Ucap Gyuri lagi.

Soonhye tersenyum lagi, mereka berdua kini tinggal bersama adik umma yang belum menikah. Junho menatap kagum ketika Soonhye keluar dari pintu rumahnya, ia terkejut. Wajah Soonhye agak memerah karena tatapn Junho.

“Apa aku terlihat aneh ?”

“Aniyo, kau cantik. Cantik sekali. Neomu Yeppeoda.”

Tiba tiba Junho berbalik ke mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana, bunga mawar pink. Soonhye tersenyum ia merasa senang.

“Soonhye-ah maukah kau menjadi kekasihku ?”

Soonhye mengangguk malu malu.

The END

Comment ya setelah membaca FF terbaru saya ini. TUUH KAAN saya comeback beneran setelah hiatus.

A-Pink profile

Park Cho Rong (박초롱)

Birthday: March 3, 1991 (20)
Height: 165cm
Weight: 46kg
Position: Leader, Rap, Vocal
CF: Beast / BBQ
MV: Beast ‘Shock’ Japanese Version
Beast ‘Beautiful’

Yoon Bo Mi (윤보미)
Birthday: August 13, 1993 (18)
Height: 163cm
Weight: 45kg
Position: Vocals, Rap
MV: Beast ‘Beautiful’

Jung Eun Ji (정은지)

Birthday: August 18, 1993 (18)
Height: 164cm
Weight: 47kg
Position: Main Vocals

Son Na Eun (손나은)
1st Member of A Pink.
Birthday: February 10, 1994 (17)
Height: 168cm
Weight: 47kg
Position: Vocals
CF: Beast / BBQ
MV: Beast ‘Soom’ Korean Version
Beast ‘Beautiful’

Hong Yoo Kyung (홍유경)

Birthday: September 22, 1994 (17)
Height: 167cm
Weight: 48kg
Position: Vocals
CF: Beast / BBQ
MV: Beast ‘Beautiful’

Kim Nam Joo (김남주)
Birthday: April 15, 1995 (16)
Height: 165cm
Weight: 46kg
Position: Rap, Vocals
MV: Beast ‘Beautiful’

Oh Ha Young (오하영)
Birthday: July 19, 1996 (15)
Height: 167cm
Weight: 46kg
Position: Vocals
CF: Beast ‘Beautiful’

Cre : Youtube, A-pink.net.

IM COMEBACK from hiatus 🙂 I’ll try my best to continue my fanfiction

MV mr. taxi Unofficial telah ditonton 1, 6 juta orang

diupload tanggal 28 april dan hari ini pada tanggal 1 mei telah ditonton 1,6 juta orang meskipun MV tersebut low quality dan juga unofficial.

daebak SNSD 🙂

HQ SNSD Mr. Taxi 1:06 menit

They released mr. Taxi in 27 April, waiting for that day. But I HAVE A EXAM A NATIONAL EXAM wish me luck.

Mr. Taxi 2 minutes released (LQ vers.)

Taeyeon Part :

TOKYO, SEOUL, LONDON, New York  kimamanisekaio Drive tonight

scream’s part edited -.- i really dont like they edited out. Will always update for Mr.Taxi