Blog Archives

Ice Princess, her stepsister, and namja part IV

barbie girl

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cast   : Jessica Jung, Lee Donghae, Choi Sulli, Ok Taecyeon.

“Sooyeon Noona, Gwaenchanayo ?”

Kedua mata Sooyeon berusaha terbuka agar ia bisa melihat pemilik suara itu. Taecyeon sedang menatapnya penuh kekhawatiran, Sooyeon mendesah. Di dalam hatinya ia ingin sekali orang yang ada di depannya ini adalah Lee Donghae bukan Taecyeon. Sooyeon hanya mengangguk tak peduli, ia mengalihkan pandangannya kepada sebuah jendela tepat di samping kamar tidurnya. Ia menangkap sosok Donghae dan Jinri yang sedang berjalan melewati jendela kamar itu. Mereka bergandengan tangan, erat sekali. Tiba tiba Jinri memandang Sooyeon dari balik jendela dan tersenyum licik. Senyuman itu seolah menandakan ‘Donghae resmi milikku’.

Sooyeon POV

Tch. Aku berdecak pelan, pasti anak kecil itu sengaja lewat di depan jendela kamarku. Dasar menyebalkan. Aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan melihat Taecyeon sedang meramu obat untukku. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan ke meja belajarku. Pelajaran bahasa inggris yang menurutku sangat mudah, karena aku sudah tinggal di Amerika sebelumnya. Aku membaca setiap soal dengan teliti, soal yang kedua aku melihat sebuah surat dengan bahasa inggris. Aku merasa aku mengingat sesuatu yang berhubungan dengan surat. Mataku membulat, surat ? Surat yang dikatakan Donghae kemarin, kira kira surat apa ? Surat cinta ? Sooyeon-ya apa yang ada dipikiranmu ? Surat cinta ? Mana mungkin hal seperti itu terjadi, memikirkannya saja membuat pipiku memerah.

“Noona sebaiknya kau minum vitamin ini. Agar kau tidak kecapaian untuk belajar.”

Taecyeon sudah berada di sebelahku memberikan ramuannya tadi. Aku segera meminumnya daripada aku pingsan lagi seperti kemarin, jadi apa nanti nilai ujianku ?
Tok tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan membuka pintu, sesosok makhluk tampan muncul di hadapanku. Sialan, mengapa aku jadi meracau seperti ini ? Sejak kapan aku memuji Donghae tampan. Semoga wajahku tidak memerah, ini memalukan. Donghae tersenyum melihatku, DEG DEG DEG jantungku bergetar lebih cepat. Perasaan apa ini ? Aku merasa hanya dengan senyumannya saja membuatku teraliri aliran listrik, dan rasa ini membuatku bahagia. Dan membuatku seperti bukan aku yang biasanya.

“Sooyeon-ah, maafkan aku. Kemarin aku harus membuatmu istirahat, agar kau tidak mudah sakit.”

Ia menggaruk rambutnya dengan canggung. Aku tersenyum dalam hati, ia sangat memperhatikanku. Bukankah seharusnya ia lebih memperhatikan kekasihnya Choi Jinri ?
Aku memasang ekspresi dingin seperti biasa.

“Kau seharusnya bersama Jinri, aku tidak suka anak kecil itu meracau hanya karena kau datang kesini.”

Aku mendesah pelan, mengingat Donghae adalah kekasih Jinri. Donghae terlihat santai, ia seperti tidak peduli dengan Jinri. Benarkah itu ? Tapi mengapa ia selalu mesra bersama Jinri ? Apa makhluk ini playboy ?

“Kau baik baik saja kan ? Istirahatlah yang cukup.”

Donghae membalik badannya dan melangkah mejauhi kamarku, aku mendesah pelan. Mengapa aku berharap lebih ? Mengapa aku berpikir ia akan membantah kata kataku ? Dasar Jessica babo.

“Kau menyukainya, Noona ?”

Sialan, apa yang dikatakannnya ? Bagaimana ia bisa mengamatiku dari sudut itu ? Aku membalik badanku dan sekarang aku berhadapan dengannya. Aku menatapnya dingin.

Taecyeon POV

Tch. Noona, jangan berbohong kepada perasaanmu sendiri. Aku sedari tadi melihatmu berusaha menembunyikan wajah cantikmu dari tatapan Donghae. Wajahmu memerah setiap Donghae tersenyum padamu. Tch. Sejak kapan kau mencair Noona ? Mengapa bukan aku saja yang mencairkan esmu ? Aku selalu ada disisimu, bukan ?

Sooyeon Noona meninggalkanku terdiam di kamar yang berusaha untuk merasa tidak patah hati. Aku tidak akan menyerah. Aku berjalan keluar kamar, suara tamparan menggema di penghujung ruangan.

“Nappeun saram ! Dia itu KEKASIHKU Jung Sooyeon !”

Aku menghampiri suara Jinri yang cukup ku kenal itu. Dan benar saja Jinri benar benar tidak terima Donghae mendekati Sooyeon Noona, mengapa melampiaskannya kepada Sooyeon Noona ? Bukankah Donghae yang mendekati Sooyeon Noona duluan ? Aku segera memisahkan kedua gadis cantik itu, Sooyeon Noona hanya diam saja.

“Mengapa kau disini ? Pergilah aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita murahan ini.”

Jinri berteriak di depan wajahku. Sialan, kau memang mencintai Donghae tapi bukan begini caranya. Aku tidak akan mencintai seseorang dengan cara yang sama dengan Jinri, meskipun aku tahu ia sama sekali tidak menyukaiku. Aku menggandeng tangan Noona dengan erat, dan menariknya pergi dari hadapan Jinri.

Kau seharusnya tidak sepasrah itu Noona, aku tahu kau sangat kuat. Ia menatapku tajam, tidak ada kata terima kasih seperti biasa. Kebiasaan yang sepertinya tidak dapat kau ubah Noona. Tapi aku tetap senang bisa ada disisimu seperti ini.

“Kau harus membela dirimu Noona.”

Ia hanya menatapku dingin, sambil berdecak. Ia tidak peduli bila ia ditampar adiknya ? Ia tidak peduli dengan rasa sakit di pipinya ? Kau benar benar membingungkan. Babo. Tapi aku mencintaimu. Aku benar benar mencintaimu.

“Kau bodoh ? Sebelum kau datang mengacaukan semuanya, aku ingin menamparnya balik. Mengapa kau merelai ? ”

Aku membelalak, seharusnya aku tahu pasti tidak mungkin ia tidak membalas tamparan Jinri. Haha. Aku benar benar menyukainya ketika ia berbicara panjang seperti itu.

Mwo ? Tidak mungkin Sooyeon melakukan itu kepada Jinri. Itu aneh. Bila Jinri tidak memulainya duluan mana mungkin Sooyeon akan menamparnya sampai berdarah seperti itu ? Tadi Jinri datang kepadaku dengan sudut bibirnya yang berdarah dan menceritakan kalau Sooyeon datang kepadanya dan memarahinya, bahkan menampar Jinri. Err.. Apa aku percaya pada Jinri begitu saja ? Aku harus tahu dari Sooyeon sendiri. Aku berjalan keluar dari ruangan dan mengajak Jinri untuk menemui Sooyeon.

Gadis itu sedang duduk memandang langit. Sendirian. Aku berjalan menghampirinya. Ia menatapku lalu melihat ke arah Jinri. Ia mengalihkan pandangannya dari aku dan Jinri.

“Kau menampar Jinri ?”

Sooyeon membelalak, tapi ia hanya diam. Tidak peduli. Apa kau ingin kehilangan kepercayaanku ? Apa ia benar benar menampar Jinri ? Memang, aku harus percaya kepada Jinri yang lebih lama aku kenal. Tapi ini aneh. Mana mungkin Sooyeon repot repot menampar Jinri ?

“Aku belum menamparnya.”

tiba tiba Sooyeon memandang mematikan kepada Jinri. Sooyeon kembali diam dan menatap lurus. Tiba tiba Taecyeon datang dan membawa buku pelajaran, ia tersenyum dan memberikannya kepada Sooyeon. Sooyeon menekuri buku pelajarannya tanpa memedulikan lagi aku dan Jinri.

“Donghae hyung, ada apa ini ? Dan mengapa Jinri berdarah seperti itu ?”

“Sooyeon menamparnya.”

Mata Taecyeon terbelalak, ia terkejut ? Taecyeon tampak aneh, apa benar Sooyeon menampar Jinri ? Mengapa ekspresi Taecyeon menunjukkan penolakan yang sangat jelas.

“Hyung. Justru Jinri yang menampar Sooyeon Noona.”

Hah ? Jinjjayo ? Apa Jinri berbohong padaku ? Aku memandang Sooyeon bertanya tanya mengapa ia begitu tidak peduli dengan masalah ini. Mungkin menurutnya ini bukan sebuah masalah ?

“Aniyo. Aku di tampar Sooyeon unnie. Oppa, kau percaya padaku kan ?”

Aku menatap kekasihku yang ingin segera ku putuskan saja. Apa aku harus percaya padanya ? Atau gadis dingin itu ? Tiba tiba Sooyeon menutup bukunya dengan keras. Ia menghampiriku dengan tatapan dinginnya, ia begitu dekat. Aigo. Aku mundur sedikit, tapi dengan cepat ia maju lagi lalu menatap mataku dalam. Matanya dalam dan dingin.

“Aku tidak peduli. Terserah kau percaya pada siapa aja. Bukan urusanku.”

“Dan kau Choi Jinri, rantai saja kekasihmu itu agar tidak datang kepadaku.”

Jessica pergi begitu saja setelah mengucapkan beberapa kalimat yang sangat dingin. Dia tidak peduli ? Aku berpikir untuk percaya padanya. Aku tersenyum sendiri. Babo. Aku tahu kau juga menyukaiku kan Sica-ya ? Jangan terlalu dingin. Tapi bukankah aku mempermainkan Jinri ? Entahlah. Kadang cinta harus egois bukan ? Bila cinta tidak egois akan rumit.

“Jinri-ya. Aku tahu kau mencintaiku bukan seperti oppa-mu. Dan maaf aku tidak bisa mencintaimu selain sebagai adikku.”

Aku menatap mata Jinri dalam, matanya berair. Daripada aku terlalu lama membuatnya jatuh ke dalam sandiwaraku untuk membuat Sica cemburu. Ia tersedu sedu, air matanya menetes berkali kali. Di pipi putihnya berkali kali mengalir air matanya, ia menunduk.

“Waeyo oppa ? Sooyeon hanya makhluk dingin dan tidak berarti apa apa.”

Aku menatapnya dalam, dasar anak kecil. Ia memang belum begitu dewasa untuk mencintai seseorang seperti itu. Aku tahu ia berbohong hanya untuk mendapatkan perhatianku, tch.

“Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya.”

Author POV

Sooyeon pulang dari sekolahnya dengan perasaan gembira, karena hari ini pengumuman hasil ujian telah dibagi dan ia mendapatkan skor tertinggi se-sekolahnya. Sooyeon putus sekolah lulus dari SMP beberapa tahun sehingga ia menjadi agak tua diantara siswa SMA lainnya. Senang tidak senang wajah Sooyeon selalu datar dan dingin.

“YA ~ Mengapa kau terlihat agak baik daripada biasanya ?”

Suara Donghae memanggil Sooyeon membuyarkan kesenangan Sooyeon. Sooyeon membalikkan badannya dan menghadap Donghae yang sedang tersenyum padanya. Sooyeon menunduk, meskipun ia suka melihat Donghae tersenyum padanya. Tapi bila ia mengangkat wajahnya, ketahuan sekali wajahnya memerah hanya karena senyuman Donghae. Donghae menarik kertas dari tangan Sooyeon yang ia genggam erat. Donghae tersenyum membaca isinya, sebuah penghargaan kepada Jung Sooyeon karena mendapat peringkat satu sesekolahnya.

“YA~ Baguslah, pingsanmu waktu itu terbayar dengan ini.”

Donghae mengacak acak rambut Sooyeon, Sooyeon mengangkat wajahnya karena terkejut. Wajahnya memerah. Seseorang memandang mereka dari kejauhan, tersenyum pahit. Sooyeon hanya diam, ia senang dengan perlakuan Donghae kepadanya.

“Kau mau ku traktir di tempat makan favoritmu ?”

Sooyeon mengangguk malu, ia terlalu malu untuk menunjukkan sisi lain selain dingin.

********************************

“Aku penasaran dengan surat itu, apa kau menerimanya ?”

Donghae memandang Sooyeon lekat, Sooyeon yang sibuk dengan makanannya. Sooyeon menatap Donghae datar. Sooyeon menggeleng, lalu ia kembali melanjutkan acara makannya. Donghae memandang arah lain, ia penasaran apakah Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepada Sooyeon ?

“Aku menitipkannya pada Jinri.”

Sooyeon menatap Donghae heran, Jinri tidak pernah memberikan surat itu kepadanya. Sooyeon hanya diam. Jinri memang tidak pernah dewasa, batin Sooyeon. Dua orang itu sibuk dengan pikiran masing masing, sampai mereka tidak sadar seseorang terus mengikuti mereka dari awal Jessica bersama Donghae. Jessica perlahan tersadar seseorang sedang memandangnya dari tempat yang jauh. Matanya mencari cari seseorang yang sedang mengawasinya, ia melihat ke jendela restauran. Tidak ada yang tampak mencurigakan baginya. Seseorang berbaju hitam bersembunyi di balik tembok yang cukup besar, ia tahu Jessica menyadari keberadaanya. Ia hanya diam bersembunyi, tidak mau keluar dari persembunyiannya.

“Waeyo ?”

Donghae bertanya karena Sooyeon sedari tadi menoleh ke arah yang berbeda berkali kali. Ia menyadari keanehan yang ditimbulkannya. Sooyeon hanya menggeleng ragu. Ia melanjutkan makannya yang sudah tinggal beberapa suap lagi.

Drrt Drrt Drrt

“Yoboseyo ?”
…….
“Mwo ? HAJIMAYO !”
…….
“Tunggu aku, aku akan kesana.”

Giliran Sooyeon yang memandang aneh Donghae, Donghae berteriak teriak tak jelas. Donghae segera keluar dari restauran tanpa mengatakan apa apa, wajahnya tampak penuh kekhawatiran. Sooyeon hanya diam, dan tersenyum pahit.

Sooyeon POV

Perlahan air mata membasahi pipiku, aku menutupi wajahku dengan tangan. Padahal aku sudah mulai mempercayaimu Donghae. Apa kau tidak mencintaiku ? Setidaknya katakan apa yang terjadi. Bukan seperti ini caranya hanya meninggalkanku begitu saja. Ini sudah cukup menyakitkan. Seolah kau baru saja membuatku terbang jauh dan membuatku jatuh bergitu saja ke tanah.

Aku berdiri dan pergi meninggalkan restauran ini daripada aku hanya duduk dan menangis. Aku memandang sekitarku, lagi lagi aku merasa ada yang mengawasiku. Tiba tiba seseorang berbaju hitam berjalan di sebelahku, aku mempercepat langkah tapi tetap saja ia sejajar denganku. Sialan, siapa orang ini.

“Stop following me.”

Aku berteriak dan segera berlari menjauhi orang bodoh itu. Aku sedang tidak ingin bertemu siapa siapa. Tiba tiba sesuatu terlintas dalam pikiranku. Apakah tadi Jinri yang menelepon ? Mengapa Donghae begitu panik ? Padahal Jinri adalah orang ia putuskan beberapa hari lalu. Itu berarti ia tidak menyukai Jinri, kan ?

“Uljimayo.”

Aku berjalan di atas garis hitam putih untuk menyeberang ke sisi lain, tiba tiba aku melihat seseorang dengan baju hitam tadi melepaskan penyamarannya. Tch. Taecyeon menatapku khawatir, apa selama ini ia selalu mengikutiku ? Ia bodoh sekali. Aku sudah menghapus air mataku. Aku berjalan menjauhinya.

“Jangan pernah memandangku sebagai seorang dongsaeng atau anak kecil. Karena aku mencintaimu.”

MWO ?! WHAT THE HELL ?! Otaknya sedang berjalan tidak baik. Aku berbalik dan memelototinya, dasar manusia bodoh. Tapi matanya menunjukkan keseriusan yang mendalam. Aku hanya diam menatapnya, bagaimana bisa ia mencintaiku ? Aku segera menarik tangannya agar pergi dari tengah jalan. Ini tengah jalan, dan ia dengan asyiknya menyatakan cintanya padaku. Aku menarik tangannya tapi tiba tiba ia memegang tanganku erat. Aku melepaskan tangannya dengan paksa ketika selesai menyebrang. Tapi ia tidak mau melepaskan tangannya.

“Mwoya ! Lepaskan aku. Apa kau mau aku berteriak ?”

Aku berteriak sehingga membuat orang orang lain menoleh dan memandang kami curiga. Tapi ia tetap bersikukuh tidak melepaskan tangannya.

“Biarkan seperti ini, Noona. Aku merasa sesuatu akan terjadi padaku.”

Aku menatapnya heran. Err… Sesuatu akan terjadi ? Tapi itu bukan urusanku kan ? Untuk apa aku menurutinya. Aku tetap berusaha melepaskan tangannya, sayangnya tangannya sangat kekar. Sial. Aku menyerah. Ia menggandengku sampai tiba di halte. Aku duduk menunggu bus, ia telah melepaskan gandengan tangannya yang membuatku cukup lega. Ia diam saja sambil melihat jalanan di depannya.

DJ put it back on

Suara ringtone pesan membuatku terkejut, aku melihat ponselku. Satu pesan masuk dari Donghae ? Beraninya ia. Hanya meninggalkanku lalu mengirim pesan dengan santainya ? Aku benci sekali padanya. Tapi apa salahnya membuka pesan darinya.

Sooyeon-ah. Mianhae aku meninggalkanmu.
Jinri akan bunuh diri. Jadi aku harus kesana.
Tapi untunglah aku berhasil membujuknya, apa kau mau aku jemput sekarang ? Atau kau ingin pulang sendiri. Sebenarnya aku masih bersama Jinri. Kau lebih dewasa, jadi kau pasti mengerti. Pulanglah sendiri.

Mwo ? Pulanglah sendiri. Air mata menetes lagi di pipiku, aku kesal padamu Lee Donghae. Mengajakku pergi dengan senyumanmu yang maut itu, lalu meninggalkanku tanpa apa apa. Dasar bodoh. Aku tidak akan percaya padamu lagi. Air mataku semakin deras. Apa aku cemburu ? Tentu saja aku cemburu lebih dari cemburu. Seenaknya saja datang dan pergi. Siapa menyuruhmu kembali lagi Donghae ? Dengan kesal aku melempar ponselku ke jalanan. Tiba tiba Taecyeon berjalan pelan mengambil ponselku itu di tengah jalan, aku hanya menatapnya datar.

Tiiin Tiiiin

BRUUUK, tubuh kekar Taecyeon terhempas di jalanan dengan keras. Mobil menabraknya. Mataku tak bisa berhenti hanya menatapnya. Segera saja aku berlari ke arah Taecyeon yang sudah tidak berdaya.

To Be Continued

Woaah it’s been a long timee. This story will end sooon :”) sorry it’s too late:3 check fanfiction page for the previoous part~

Ice Princess, her Stepsister, and Namja PART III

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ice Princess, her Stepsister, and Namja PART III

Main Cast        :           Jessica Jung

Lee Donghae

Choi Jinri

Ok Taecyeon

Genre                :           Romance (?)

Disclaimer       :           They’re all mine  ㅋㅋㅋ

Author              :           taegangunitePSH

P.S.                     :           Author minta maaf *bow* kalau FFnya lama. FF ini ganti cover 🙂 *yeay* saya postnya malam malam lho jadi mungkin Ffnya  rada nyeleneh yah tolong dimaaafkan. part ini panjang *bow*

Backsound        :          Stand By U – Tohoshinki dan Can You Hear Me – Taeyeon

Author POV

Jessca hanya diam melihat Taecyeon membersihkan lukanya. Bagi seorang Jessica luka dilututnya itu tidak berarti apa apa bahkan bisa dibilang tidak menyakitkan bila dibandingkan dengan ketika ia melihat Jinri dan Donghae tadi.

“Noona, apa kau tidak merasa sakit ?”

Jessica hanya diam tidak menjawab pertanyaan Taecyeon. Bukankah sudah jelas bila ia tidak menangis itu berarti ia tidak kesakitan kan ? Untuk apa namja ini bertanya ? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Akhirnya Taecyeon hanya diam tidak bertanya lagi, ia membalut luka Jessica dengan hati hati menggunakan syal miliknya. *author terinspirasi FTV/plaak*. Angin datang agak kencang membuat rambut blonde Jessica menutupi wajahnya.

Taecyeon POV

*eh tacyeon dikasih POV /plaak* Aku menatap wajah seorang es yang tertutupi rambutnya, apa ia suka melihat sesuatu yang tidak ada didekatnya ? Seperti aku yang selalu ada didekatnya, pernahkah sekali saja ia tersenyum padaku ? Melihatku saja tidak. Mengapa aku berharap lebih ? Noona aku benar benar menyukaimu sebagai seorang namja.

“Apa yang kau lihat Taecyeon ?” Tanya Jessica noona yang membuatku terkejut, ia melihatku *yeay* meskipun dengan tatapan yang menyeramkan seperti itu tapi gwencannayo.

Jessica POV

“Apa yang kau lihat Taecyeon ?” Tanyaku ketika melihat Taecyeon yang terdiam dan memandangku. Seketika saja Taecyeon gelagapan dan bingung.

“Aniyo noona, bukan apa apa.” Ucapnya segera memalingkan wajahnya ke arah lain.

Tempat ini sangat dingin, maklum musim dingin. *Jessica jadi sarap* Mengapa tadi aku tidak memakai baju hangat ? Apa karena tadi aku terlalu bersemangat bertemu Donghae ? Alasan yang bodoh.

“Noona apa kau kedinginan ?” Tanya Taecyeon dengan wajah polosnya. Lagi lagi polos apa ia bisa merubah sedikit ekspresi wajahnya. Aku hampir bosan melihatnya. Sekarang ia menambah keahlian lagi selain berwajah innocent ia juga bisa membaca pikiranku. *ceritanya jadi sarap/plaak*. Aku tidak menjawabnya biarkan ia berpikir dengan sendiri apa aku terlihat kedinginan atau kepanasan.

Donghae POV

Mengapa Jessica bertingkah seperti tidak mengenalku ? Bukankah sebelum aku meninggalkannya ia terlihat mulai ‘mencair’ ? Aku benar benar penasaran apakah jinri memberikan surat itu ke Jessica ? Ah aku harus percaya pada Jinri karena akau mengenalnya sejak lama ia sudah seperti adikku sendiri. Tunggu bukankah akan seru bila aku menjadi namjachingu Jinri, pasti akan membuat Jessica cemburu *gilak donghae PD* atau bahkan ia tidak bereaksi.

“Oppa itu Jessica unnie kan ?” Tunjuk Jinri ke arah sisi lain laut ini.

Jessica tampak memandang kosong hamparan laut didepannyabahkan Taecyeon yang sedang berbicara saja tidak dihiraukannya. Ia benar benar seorang es. Jessica mengalihkan pandangan dan kini ia sedang melihtaku tapi tatapannya benar benar datar. Udara disekitar sini semakin dingin, mengapa ia tidak memakai baju yang hangat ? Apa ia tidak merasa kedinginan ?

“Oppa, apa yang kau lihat ? Jessica ?” Tanya Jinri dan menatapku dengan wajah cantiknya itu.

Jinri memang cantik. Tapi entah mengapa aku lebih menyukai Jessica, aku harus menunggu ‘es’ mencair (red: Jessica) barulah aku bisa benar benar menaklukan Jessica. *donghae PD*. Aku mengacak acak rambut Jinri yang mungkin akan membuat Jessica cemburu.

Jessica POV

Biarkan saja Donghae ! Jung Soo Yeon-ya kau sudah tidak mencintainya lagi kan ? Untuk apa kau sedih ! Apapun yang Donghae lakukan biarkan saja. Udara dingin semakin lama menusuk tulangku, ini sudah terlalu dingin. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menjauhi Taecyeon.

“Noona, tunggu aku.”

Aku terus berjalan dengan agak tertatih karena kaki kananku yang terluka. Aku tahu Donghae sedang melihat ke arahku mungkin ia berpikir aku cemburu. Aku berhenti melangkah.

Jung Soo Yeon jika kau pergi sekarang itu malah menunjukkan kau mencintai Lee Donghae ! Nanti saja tahanlah dirimu. Kau pandai menyimapn perasaan kan ? Simpan cemburumu nanti saja.

Aku mendengar hatiku berteriak.

Keesokan harinya. HOME. Author POV

“Sooyeon unnie, apakah kau tidak mendengar berita bahwa aku telah resmi menjadi kekasih Donghae oppa ?”

“Apakah penting ?”

“Tentu saja, jadi ku harap kau tidak mengganggu hubungan kami.”

“Terserah kau saja.”

Derap langkah kaki Jessica menjauhi Jinri terdengar karena lantai kayu rumah itu. Jessica meninggalkan Jinri yang tersenyum puas. Ia berjalan sambil menunduk.

“Annyeong Jessica-ssi.”

Jessica mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang menyapanya dan Donghae namja yang sedang tidak ingin ditemuinya hari ini tiba tiba menyapanya.

“Eng…Apa kau pernah menerima suratku ?”

Jessica menatap tajam mata Donghae. Ia benar benar tidak tahu soal surat itu.

“Permisi, Donghae-ssi kau menghalangi jalanku.”

Jessica hanya berlalu dengan tidak menjawab pertanyaan Donghae. Namja berwajah seperti anak kecil itu hanya diam.

Donghae POV

Seharusnya aku tidak menanyakan itu, ini semakin membuatku sakit hati. Mengapa ia tidak menjawabku ? Aku benci mendengarnya berbicara formal padaku. Tiba tiba saja BRUUK tubuh Jessica terjatuh dilantai dengan tragisnya(?) Aku segera berlari ke arah Jessica yang sedang pingsan di lantai. Untunglah ia tidak pingsan di luar rumah bisa bisa kepalanya tertusuk(?) kerikil kerikil.

“Sooyeon-ah, gwencanayo ?”

Ah aku bodoh sekali mengapa orang pingsan ku ajak berbicara jelas saja ia tidak menjawab. Aku menggendong Jessica yang tubuhnya tergolong sangat ringan itu.

“Jessica ?!”

“Tuan Choi, aku harus membawanya ke kamarnya dan tolong bawakan buku buku Jessica yang jatuh tadi.”

“Ah.. ne.”

Mungkin Tuan Choi bingung bisa bisanya anak buahnya justru menyuruh nyuruhnya. Tapi ini kan demi Jessica.

***

Aku memandang wajah Jessica yang sedang pingsan itu, ia selalu bekerja keras untuk meraih apa yang diinginkannya tapi ia tak pernah berpikir tentang kesehatannya. Dasar Jessica bodoh.

“Eng…eng…kk…aaa…u…”

“Jessica kau sadar, sebaiknya jangan bangun dulu.”

Wajah Jessica yang agak pucat membuatnya tampak agak menyedihkan badannya yang kurus wajahnya yang putih pucat.

“Aku harus belajar aku tidak boleh enak enakan tidur disini.”

Tiba tiba saja Jessica beranjak dari tempat tidurnya dengan agak sempoyongan *halah* berjalan menjauhiku.

Author POV

Jessica terjatuh lagi karena ia masih lemah, tapi dengan sigap Donghae manangkap sosok ‘es’ itu. Donghae memapah Jessica yang masih lemah kembali ke tempat tidurnya.

“Sudah ku bilang jangan bangun dulu ! Ini untuk kebaikanmu !”

“Aku harus belajar.”

Lagi lagi Jessica berdiri dan berusaha berjalan tetapi Donghae memegang bahunya dan mendudukkannya secara paksa di tempat tidur.

“KAU SUNGGUH TIDAK BISA DIBERITAHU aku menyuruhmu untuk istirahat, mudah saja bukan ? Tinggal tidur. Aku sudah peduli padamu Sooyeon jangan buat aku kehilangan kesabaran.”

Nafas Donghae tidak teratur sehabis berteriak tadi. Jessica mengalihkan pandangannya sehingga ia membelakangi Donghae diam diam ia meneteskan air mata.

“Aku harus pergi.”

Donghae keluar dari kamar Jessica dengan cepat. Seiring perginya Donghae, air mata Jessica semakin deras.

Jessica POV

Mengapa rasanya sesak ketika ia membentakku ? Aku hanya ingin belajar Donghae. Aku senang kau perhatian padaku tapi bukan seperti itu, itu cara yang menyakitkan.

FLASHBACK

The day you left without the words of leaving
This road’s scenery and scent seems as if it was changed
The promises we exchanged because I want to be your everything
It was never kept and changes into memories

Aku tidak suka merasakan patah hati Donghae-ssi. Mengapa kau meninggalkanku tanpa kata kata ? Semuanya terasa berubah. Aku selalu berharap kau kembali…

FLASHBACK END

Ketika kau kembali semuanya semakin menyakitkan Donghae-ssi.

You make me walk around
You make me cry
Like an idiot, like a child
Just laugh it off

Kau membuat seorang es hampir leleh Donghae-ssi…